Asbabun Nuzul Surat Al Baqarah Ayat 216 dan Tafsir Singkat

Asbabun nuzul adalah sebab-sebab turunnya Al-Qur’an. Baik ayat, rangkaian ayat, maupun suatu surat secara keseluruhan. Lalu bagaimana asbabun nuzul Surat Al Baqarah ayat 216?

- Advertisement -

Sebenarnya, istilah yang lebih tepat untuk penyebab tunggal yang melatari turunnya ayat adalah sababun nuzul. Bentuk tunggal dari asbabun nuzul. Namun, bentuk jamaknya lebih populer di kalangan awam. Karenanya kita bisa menggunakan dua istilah tersebut.

Terjemah Surat Al Baqarah Ayat 216

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al Baqarah: 216)

Baca juga: Ayat Kursi

Asbabun Nuzul Surat Al Baqarah Ayat 216

Tidak mudah mencari asbabun nuzul Surat Al Baqarah ayat 216 ini. Sebab, banyak kitab tafsir tidak menyebutkannya. Tafsir Ibnu Katsir, Fi Zhilalil Qur’an, Tafsir Al Azhar, hingga Tafsir Al Misbah, semua tidak mencantumkannya.

Untunglah kita bisa menemukan asbabun nuzul Surat Al Baqarah ayat 216 ini dalam Tafsir Al Munir karya Syaikh Wahbah Az Zuhaili. Ulama Suriah yang memiliki kepakaran dalam banyak bidang keislaman. Mulai dari fiqih dengan karya monumentalnya, Fiqih Islam wa Adillatuhu, hingga tafsir.

- Advertisement -

“Ibnu Abbas mengatakan ketika Allah mewajibkan jihad atas kaum muslimin, mereka merasa keberatan dan tidak suka sehingga turunlah ayat ini,” tulis Syaikh Wahbah Az Zuhaili saat menjelaskan sebab turunnya Surat Al Baqarah ayat 216. Singkat.

Baca juga: Asbabun Nuzul Surat An Nisa Ayat 59

Tafsir Singkat Al Baqarah 216

Quraish Shihab dalam Tafsir Al Misbah mengatakan, secara umum manusia memang tidak menyukai perang. Apalagi para sahabat yang telah beriman. Mereka mencintai kedamaian.

Namun, jika kaum muslimin tidak berperang (berjihad), musuh akan menghancurkan mereka. Merampas tanah dan kemerdekaan beribadah. Juga menodai kehormatan dan menindas orang-orang lemah. Maka, Allah mewajibkan jihad perang.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Tak hanya perang, Ibnu Katsir menjelaskan, ini berlaku umum mencakup semua perkara. Demikian pula Buya Hamka.

- Advertisement -

“Laksana orang sakit meminum obat yang pahit, tidaklah seleranya suka meminum obat itu, tetapi untuk kesembuhannya, mesti ditelannya juga,” tulisnya dalam Tafsir Al Azhar.

Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Ini kebalikan dari sebelumnya. Artinya, jika Allah melarang sesuatu –meskipun engkau menyukai sesuatu itu- tanamkanlah keyakinan bahwa dalam sesuatu yang terlarang itu terdapat banyak keburukan. Ia sangat buruk bagimu.

Demikian pula ketetapan dan takdir Allah. Jika suatu takdir sangat engkau sukai, berhati-hatilah agar tidak terjerumus kepada dosa karena itu bisa membawa keburukan. Misalnya, saat seseorang kaya, hendaklah ia tidak terlalu gembira hingga lupa diri.

Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Ibnu Katsir menerangkan, Allah lebih mengetahui akibat dari semua perkara daripada kalian. Allah lebih mengetahui mana yang ada kemaslahatan dunia dan akhirat. Maka, Dia pun menyerukan dan memerintahkan sesuatu yang pasti mengandung kemaslahatan itu. [Muchlisin BK/Kisahikmah]

*Untuk tafsir lengkap, silakan baca artikel Surat Al Baqarah Ayat 216

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -