Akibat Melempar Sepatu kepada Ibu

Terlahir sebagai anak semata wayang malah mengantarkan laki-laki ini pada kekeliruan dalam bersikap. Meski mendapat pendidikan yang tepat dari ibu dan bapaknya, ia lebih terpengaruh dengan kelakuan buruk teman-temannya.

- Advertisement -

Berkata kasar, kerap melontarkan kalimat keji, bahkan tak jarang mendaratkan serangan fisik kepada kedua orang tuanya. Tindakan tercela ini semakin parah ketika ayahnya meninggal dunia. Ia semakin berani. Bahkan tidak segan melawan ibunya yang kerap menasihati dengan kelembutan.

Sang ibu menjaga dirinya dari melontarkan kalimat keburukan. Dengan ilmu dan iman, dia menasihati putranya dengan lembut, melalui perkataan dan kasih sayang tanpa batas. Sepeninggal ayahnya, sang ibu juga meminta kepada paman si anak agar ikut menasihati anaknya itu. Sayangnya, perangai buruk itu semakin menjadi-jadi.

Hari itu, anak ini baru pulang dari berkumpul bersama teman-temannya. Setelah mencukupi kebutuhannya, sang ibu menyampaikan nasihat kepadanya. Dengan perkataan lembut dan diksi yang tertata. Sayangnya, ia tidak menerima. Ia langsung melontarkan cercaan dan caci maki kepada wanita yang telah mengandung, merawat, membesarkan, bahkan bertaruh nyawa demi kehidupannya.

Kemarahan si anak semakin brutal ketika sang ibu mengancam akan melaporkan tindakan buruknya itu kepada pamannya. Tidak tanggung-tanggung, si anak mengambil sepatu yang biasa dia kenakan, lantas melemparnya ke arah sang ibu. Tanpa belas kasih secuil pun.

Malamnya, si anak tertidur pulas. Seharian berkumpul dengan temannya menerbitkan lelah di fisiknya yang kian ringkih. Ia bisa tidur dengan tenang lantaran tidak mengetahui apa yang akan terjadi di keesokan harinya.

Setelah matahari meninggi dan sinar hangatnya menerobos melalui celah ventilasi menyapu lembut kulitnya, dia terbangun. Lantaran teringat sesuatu, dia bergegas menggerakkan anggota badannya. Dia berniat menuruni tempat tidur, membersihkan diri di kamar mandi, lalu segera melakukan rencana aktivitasnya hari itu.

- Advertisement -

Sayangnya, usahanya sia-sia belaka. Badannya tak kuasa digerakkan. Kaku. Dia lumpuh.

Sejak dahulu, lama sebelum kisah nyata ini terjadi, Allah Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam sudah mengingatkan. Hendaknya kita berbuat baik kepada kedua orang tua. Haram berlaku durhaka kepada keduanya. Jangankan melempar sepatu, berkata ‘ah’ dan sejenisnya pun terlarang!

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

Rujukan: Kisah-kisah Anak Durhaka, Khalid Abu Shalih.

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -