Yahudi: Tangan Allah Terbelenggu

Orang-orang Yahudi-semoga Allah Ta’ala melaknantnya-mengatakan, “Tangan Allah Ta’ala terbelenggu.” Kabar ini disebutkan oleh Allah Ta’ala di dalam surat al-Maidah [5] ayat 64. Mereka, tutur Imam Ibnu Katsir, “Menyifati Allah Ta’ala sebagai Rabb yang bakhil sebagaimana mereka menyifati Allah Ta’ala sebagai Rabb yang miskin.”

- Advertisement -

Dalam waktu bersamaan, saat Allah Ta’ala mereka sifati dengan bakhil dan miskin, orang-orang Yahudi itu menyifati dirinya sebagai orang yang kaya. Padahal, Allah Ta’ala Mahakaya, Maha Pemberi rezeki. Sedangkan makhluk-Nya, tak terkecuali orang Yahudi, amatlah miskin dan tak memiliki daya atau kekuatan kecuali atas Kehendak-Nya.

Padahal, sifat bakhil bukanlah sifat Allah Ta’ala. Bahkan, Dia melarang hamba-hamba-Nya untuk berlaku demikian. Larangan tersebut disebutkan di dalam surat al-Isra’ [17] ayat 29, Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu menjadikan tanganmu terbelenggu (bakhil) ke lehermu.”

Saking ingkar dan sesatnya tuduhan orang-orang Yahudi ini, Allah Ta’ala langsung meresponnya dengan berfirman, “Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu.” Allah Ta’ala yang menjadikan mereka bakhil. Mereka menahan harta dari zakat dan infaq sebab mengingkari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya yang mulia.

Selain membelenggu tangan-tangan orang Yahudi, Allah Ta’ala juga memberikan bonus atas perkataan dusta dan keji yang mereka tuduhkan kepada-Nya. “Dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu.” Laknat Allah Ta’ala adalah kepastian bagi mereka yang ingkar dan sombong. Karenanya, berhati-hatilah dengan lisan. Sebab, jika hanya mengucapkan sesuatu sesuai nafsu, siksa dan laknat Allah Ta’ala telah siap menunggu; di dunia atau di akhirat.

Sebagai penjelas pamungkas, Dia menegaskan tentang Kedermawanan-Nya kepada seluruh makhluk. Bahkan atas mereka yang ingkar dan terlaknat itu, Dia tetap memberikan perbendaharaan harta untuk keperluan hidup di dunia. “(Tidak demikian), tetapi kedua tangan Allah terbuka. Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki.”

Menafsirkan ayat yang agung ini, Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Allah Ta’ala Mahaluas karunia-Nya dan sangat banyak pemberian-Nya. Tiada satu perkera pun, melainkan pada Allah Ta’ala perbendaharaannya. Semua yang diberikan kepada makhluk, tiada lain adalah dari-Nya dan tiada sekutu bagi-Nya.”

- Advertisement -

“Allah Ta’ala,” lanjutnya dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, “telah menciptakan untuk kita segala yang kita butuhkan, pada siang dan malam, di kediaman maupun di dalam perjalanan.”

Dia, dalam ayat lain disebutkan, melapangkan rezeki bagi siapa yang Dikehendaki-Nya dan menahannya bagi siapa yang Dikehendaki-Nya. Dia juga memberikan rezeki kepada siapa yang Dikehendaki-Nya tanpa perhitungan. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Mengapa Jin Tak Berani Mengganggu Orang yang Membaca Ayat Kursi?

Mengapa jin tak berani mengganggu orang yang membaca ayat kursi? Berikut ini penjelasan ilmiah dan logisnya. Jin Sendiri Mengaku...

Rasulullah Tak Mengerjakan, Mengapa Puasa Tasua Jadi Sunnah?

Dua di antara amalan bulan Muharram adalah puasa tasua dan puasa asyura. Rasulullah biasa mengerjakan puasa asyura bahkan sangat mengutamakan. Namun puasa...

Kisah Ghibah di Zaman Nabi, Ketika Benar Tercium Bau Bangkai

Saat membaca Surat Al Hujurat ayat 12, kita memahami bahwa ghibah itu ibarat memakan daging saudara sendiri yang telah mati. Namun tahukah...

Sejarah Bulan Muharram dan Peristiwa Penting yang Terjadi di Dalamnya

Bulan Muharram (المحرم) adalah bulan pertama dalam penanggalan hijriyah. Bagaimana sejarah bulan muharram dan peristiwa penting apa saja yang terjadi di dalamnya?