Waspadailah Penyakit Orang Munafik yang Ini

Jauhilah sifat yang amat tercela ini. Ialah salah satu sifat orang munafik yang disebutkan dalam al-Qur’an. Bagi pelakunya, Allah Ta’ala akan menimpakan keburukan di hadapan makhluk, dan kelak dihinakan oleh-Nya di Hari Kiamat.

- Advertisement -

Ialah keinginan untuk dikagumi ketika amal salehnya dituturkan kepada sesama manusia, sum’ah. Kemudian merasa amat bangga saat memperlihatkan amal salehnya kepada orang lain dalam banyak kesempatan, riya’.

Orang-orang munafik itu, sebagaimana disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam salah satu ayat-Nya, “Berupaya menipu Allah”. Bodohnya mereka. Mereka mengerahkan segala daya yang dimiliki untuk menipu Zat yang Maha Mengetahui; besar dan kecil, ghaib dan nyata, tersembunyi dan terang-terangan. Bahkan, Dia mengetahui segala isi hati hamba-hamba-Nya.

“Padahal mereka hanya menipu diri sendiri.” Ya. Menipu Allah Ta’ala hanyalah sangkaan, anggapan, dan ekspektasi atas kebodohan mereka. Sebab yang amat pasti, mereka hanya menipu diri sendiri. Mahasuci Allah Ta’ala dari segala bentuk makar dan tipudaya

Bentuk tipuannya, “Jika berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas.” Malas dalam niat, saat berjalan menuju masjid, ketika mendirikan, dan selepasnya. Malas yang berat, parah, dan akut. Malas yang disebabkan penyakit di dalam hati, niat buruknya untuk menipu Allah Ta’ala dan orang-orang beriman.

Padahal, shalat adalah pengabdian tertulus seorang hamba yang beriman kepada Rabbnya. Tetapi mereka memanipulasinya di hadapan-Nya, hanya agar disangka beriman, sementara hatinya ingkar. Kelak jika kembali kepada sesamanya, mereka akan berkata, “Aku hanya menipu mereka yang beriman. Kini, aku bersama dan menjadi bagianmu.”

Motif lain dari kemalasan mereka adalah keinginan yang amat mendominasi agar diperhatikan oleh sesama manusia. Yang ada dalam benaknya hanya agar dipuji, disebut saleh, disangka beriman, dinilai baik, dan pujian-pujian lainnya. Alhasil, dalam amal yang dikerjakannya; tak ada ruh, kebaikan, atau menggerakkan bagi siapa yang melihatnya.

- Advertisement -

Dan, sekecil apa pun maksud ingin dipuji dalam dirinya inilah yang kelak menjadi sebab baginya untuk merasakan siksa neraka yang menyala. Sebab, tak halal masuk ke dalam surga seseorang yang di hatinya terdapat kesombongan, meski sebesar biji sawi yang paling kecil.

Semoga Allah Ta’ala jadikan kita hamba-hamba yang menyembah-Nya dengan ikhlas, hanya berharap ridha-Nya, bukan selain-Nya. Aamiin. [Pirman]

- Advertisement -

Terbaru

Kisah di Balik Lahirnya Buku Cinta Sehidup Sesurga

Cinta Sehidup Sesurga adalah sebuah buku inspirasi merawat cinta. Banyak kiat-kiat di dalamnya yang jika dipraktikkan dalam pernikahan, insya Allah suami istri...

Mengapa Jin Tak Berani Mengganggu Orang yang Membaca Ayat Kursi?

Mengapa jin tak berani mengganggu orang yang membaca ayat kursi? Berikut ini penjelasan ilmiah dan logisnya. Jin Sendiri Mengaku...

Rasulullah Tak Mengerjakan, Mengapa Puasa Tasua Jadi Sunnah?

Dua di antara amalan bulan Muharram adalah puasa tasua dan puasa asyura. Rasulullah biasa mengerjakan puasa asyura bahkan sangat mengutamakan. Namun puasa...

Kisah Ghibah di Zaman Nabi, Ketika Benar Tercium Bau Bangkai

Saat membaca Surat Al Hujurat ayat 12, kita memahami bahwa ghibah itu ibarat memakan daging saudara sendiri yang telah mati. Namun tahukah...