Teladan Dakwah Hasan al-Banna: Cerdas Mengubah Benci jadi Cinta

Dalam sebuah kajian dakwah, sosok sejuk ini menyampaikan sebuah hadits. Di tengah penjelasan, ada peserta kajian yang menyela. “Maaf,” kata penyela, “hadits yang Anda sampaikan derajatnya dhaif, lemah.”

- Advertisement -

Dai berwajah damai ini hanya diam sembari mengangguk kecil. Tidak melakukan pembelaan, apalagi mendebat salah satu peserta kajiannya itu.

Setelah kajian usai, sang dai yang terkenal dengan peci hitam ini mendatangi peserta kajian yang menyela tadi, lalu mengajaknya ke rumah dai. Sesampainya di rumah, dilanjut bincang santai, sang dai menunjukkan sebuah kitab hadits.

Ia membuka halaman tertentu, menunjukkan hadits yang tadi dia sampaikan. Setelah meneliti dengan cermat, sosok yang menyela di dalam kajian berseru kaget, “Mengapa Tuan tidak membantah kritikanku di kajian?”

“Karena,” jawab sang dai, “menjaga perasaan orang lain jauh lebih penting di banding membela diri.”

Di lain kesempatan, seorang renta marah-marah mendatangi anaknya di sebuah masjid. Emosi sang bapak memuncak sebab buah hatinya mengikuti kajian sesosok dai yang digambarkan buruk oleh rezim penguasa dan musuh dakwahnya kala itu.

Dengan kasar, bapak ini menyeret anaknya dari dalam masjid. Tepat ketika hendak mengenakan sandal di serambi masjid, orang tua ini terpeleset, sandalnya terpental. Jauh. Ketika itu pula, seorang laki-laki berbadan ideal membantu orang tua itu untuk berdiri sebagaimana semula, lalu bergegas mengambilkan sandalnya.

- Advertisement -

Emosi si bapak pun menurun, lalu memasang senyum dan bertanya, “Siapa namamu, Anak Muda?”

“Hasan al-Banna,” jawab si laki-laki singkat bersimbah senyum.

Ketika menyimak nama laki-laki tersebut, si bapak langsung menunduk, air matanya meleleh. Betapa selama ini dirinya telah berburuk sangka kepada sosok yang ternyata baik hati di hadapannya itu.

Ia hanya mendengar pendapat orang yang melarang anak-anaknya ikut kajian Imam Hasan al-Banna, sebab menurut mereka, di kajian tersebut muridnya diajari untuk bertindak anarkis dan melawan pemerintah.

Hari itu, Allah Ta’ala menunjukkan kebaikan dengan cara yang baik. Dan saat itu juga, ia mengajak anaknya untuk kembali masuk ke masjid dan menyimak kajian yang disampaikan oleh Imam Hasan al-Banna.

- Advertisement -

Betapa selama ini, di antara kita ada yang bersikap seperti bapak ini. Berburuk sangka kepada sesama muslim, bahkan memberi cap buruk kepada mereka hanya karena beda cara dalam berdakwah. Alhasil, mengkafirkan sesama muslim terasa gampang, tapi diam seribu bahasa saat ada orang kafir yang menyebarkan agamanya dan menindas sesama muslim.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Nasehat Rasulullah Ini Mak Jleb Buat Kita di Bulan Syawal

“Ayo, mana yang lain?” Admin ODOJ mengingatkan di grup. Banyak yang belum tuntas tilawah harian. Pertengahan Syawal telah lewat, namun setoran juz...

Kisah Imam Ahmad dan Dahsyatnya Istighfar Penjual Roti

Sebelum meninggal, Imam Ahmad rahimahullah menceritakan bahwa suatu waktu dalam hidupnya, ketika usianya mulai tua, tiba-tiba muncul keinginan untuk mengunjungi satu kota...

Habis Idul Fitri Langsung Puasa Syawal, Ini Keutamaannya

Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriyah jatuh pada hari Ahad, 24 Mei 2020. Senin, 2 Syawal 1441 bertepatan dengan 25 Mei 2020,...

Lailatul Qadar Jatuh pada Malam 27 Ramadhan? Ini Dalil dan Tandanya

Lailatul Qadar jatuh pada malam berapa? Tak ada seorang pun yang bisa memastikannya. Namun ada dalil hadits yang menunjukkan secara umum, kemudian...