Semoga Dia Dicelakakan Allah

Jika kita termasuk yang rajin beramal, berhentilah sejenak untuk menata hati. Agar hati tetap ikhlas, tulus, dan hanya berhajat kepada-Nya. Niat yang tulus juga memudahkan kita untuk mendeteksi penyakit-penyakit hati yang sangat mungkin menjadi penumpang gelap dalam gerbong amal yang kita jalani.

- Advertisement -

Penumpang gelap dalam gerbong amal inilah yang dinamakan riya’, melakukan ibadah agar mendapatkan pujian dari manusia yang melihatnya. Ia bagaikan semut hitam kecil yang merayap di malam hari di tengah sahara pada sebuah batu besar. Karenanya, ia tersembunyi, dan sangat sukar untuk dihindari kecuali atas pertolongan Allah Ta’ala.

Imam Hasan al-Bashri sebagaimana dikutip Mas Udik Abdullah dalam Bagai Mengukir di Atas Air mengisahkan seorang lelaki yang memiliki target amal harian. Sayangnya, ia berniat agar dipuji oleh sesama dan tercatat sebagai sosok ahli ibadah.

Maka sebagai salah satu cara yang ditempuh; ia pergi ke masjid jauh lebih awal dari orang lain, memanfaatkan waktu dalam dzikir, membaca al-Qur’an agar dilihat, dan selalu pulang paling akhir kemudian melewati kerumunan orang-orang yang tengah bersantai. Tujuannya satu, agar orang-orang menyaksikan kebaikan yang ia lakukan.

Anehnya, meski tak mengetahui isi hati lelaki pelaku amal shaleh ini, orang-orang yang diharapkan melayangkan pujian kepadanya justru melontarkan kalimat sebaliknya. Saat si lelaki lewat di dekatnya, mereka mengatakan, “Mudah-mudahan dia dicelakakan oleh Allah Ta’ala.”

Beruntungnya, lelaki ini segera menyadari kekeliruan diri dan bisikan setan yang merasuk ke dalam hatinya. Sekitar tujuh bulan setelah amal kepura-puraan yang dilakukannya, ia menyesal dan menginsafi semua penumpang gelap yang tak sengaja masuk ke dalam gerbong amal shaleh yang dilakukannya itu.

“Betapa sia-sianya amalku selama ini,” ujarnya dalam hati. Lanjutnya sampaikan komitmen terhadap dirinya, “Sekarang, lebih baik aku beramal karena Allah Ta’ala semata.”

- Advertisement -

Laki-laki itu pun tetap menjalankan kebiasannya tempo hari. Pergi paling awal ke masjid, dan senantiasa pulang di akhir waktu. Terus seperti itu, setiap hari, dengan tanpa perubahan sedikit pun.

Tak lama setelah itu, ketika ia melewati orang-orang yang dulu mendoakan kecelakaan baginya, mereka mengatakan yang sebaliknya, “Semoga Allah Ta’ala merahmatinya, sebab ia telah melakukan banyak kebaikan.”

Semoga Allah Ta’ala meluruskan niat atas setiap amal yang kita lakukan. [Pirman]

- Advertisement -

Terbaru

Inilah Ayat yang Membuat Umar Masuk Islam

Kemarahan Umar bin Khattab memuncak. Ia merasa agama baru telah membuat ajaran nenek moyangnya terinjak-injak. Maka ia ambil pedang, lalu pergi untuk mengakhiri apa...

Jenazah Utuh Thalhah bin Ubaidillah Saat Makamnya Dipindah

Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu gugur sebagai syahid pada Perang Jamal. 30 tahun kemudian, saat kaum muslimin memindahkan makamnya, mereka menyaksikan sebuah keajaiban. Jenazah...

Kisah Umar Marah kepada Abu Bakar Melebihi Marahnya kepada Utsman

Umar bin Khattab pernah marah kepada beberapa sahabat, terutama Abu Bakar Ash Shiddiq. Saat itu Umar sedang berduka karena menantunya meninggal dunia sehingga putrinya...

Penasaran Hadits Ini, Istri-Istri Nabi Mengukur Panjang Tangannya

Para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mencintai beliau. Tak hanya ingin menemani beliau di dunia, para ummul mukminin juga ingin segera menyusul Rasulullah...