Sebab Utama Terhalangnya Rezeki

2
ilustrasi Terhalang Rezeki @www.fotografi.tp.ac.id

“Wahai Rasulullah,” seru ‘Aisyah kepada suaminya itu, “sungguh aku telah mengetahui ayat yang paling berat di dalam al-Qur’an.” Sang suami terbaik di jagad raya itu pun bertanya lembut kepada istrinya, “Ayat apakah itu?” Ummul Mu’minin ‘Aisyah pun menjawab, “Barang siapa yang melakukan keburukan, niscaya akan mendapatkan balasannya.” Yang dimaksud oleh ‘Aisyah binti Abu Bakar adalah surat an-Nisa’ [4] ayat 123.

Menanggapi perkataan istrinya itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun membenarkan seraya mengatakan, “Apa pun yang dilakukan oleh seorang mukmin, termasuk kerikil yang dilemparkannya.”

Inilah kaidah utama yang menjelaskan sebab-sebab terhalangnya rezeki bagi seorang hamba. Baik rezeki terkait harta atau karunia Allah Ta’ala secara umum meliputi ketenangan, kebahagiaan, ketentraman hidup, nikmat ibadah, kemudahan dalam ketaatan, dan sebagainya. Meskipun memang, ada orang-orang yang senantiasa melakukan hal ini dan uangnya banyak. Tapi percayalah, harta itu tak memberikan manfaat dalam kehidupan akhiratnya.

Dengan sangat baik, Imam Ibnul Jauzi menjelaskan, bahwa kefakiran yang dialami oleh saudara-saudara Nabi Yusuf ‘Alaihis salam sehingga meminta sedekah adalah akibat dari kezaliman yang dilakukan oleh mereka empat puluh tahun silam. Allah Ta’ala membalas kejahatan yang mereka lakukan di dunia.

Demikian itulah keburukan, maksiat, dan berbagai perbuatan yang mengandung dosa. Pun berupa pengabaian amalan-amalan sunnah tanpa alasan yang syar’i. Seperti yang terjadi kepada Abu ‘Utsman an-Naisabury ketika sandalnya putus dalam perjalanan menuju shalat Jum’at. Sebagai wujud introspeksi diri, ia berkata, “Ini pasti karena aku tidak mandi sunnah di hari yang berkah ini.”

Maka benarlah apa yang dinasihatkan oleh seorang ulama. Beliau berkeliling ke majlis-majlis ilmu sembari mengatakan, “Siapa yang ingin diberikan kesehatan dan dilanggengkan kesehatannya, maka bertakwalah kepada Allah Ta’ala.”

Sebab, seorang hamba hanya bisa lepas dari maksiat dan dosa ketika dirinya sibuk melakukan amal saleh. Dengan amal saleh yang dilakukan sepanjang hari secara susul-menyusul, maka tak ada waktu bagi setan untuk merayu, membisikkan, dan menggodanya agar melakukan maksiat kepada Allah Ta’ala.

Akibat lain dari maksiat kepada Allah Ta’ala, misalnya, seperti dialami oleh Bal’am bin Baura. Ia adalah sosok yang mengetahui nama Allah Ta’ala yang paling agung. Namun, ia bermaksiat. Maka Allah Ta’ala pun menjadikan perilakunya seperti anjing yang senantiasa menjulurkan lidahnya.

Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari buruknya maksiat dan dosa, serta memberikan kita kekuatan untuk bersibuk diri dengan amal saleh di sepanjang kehidupan yang dijalani hingga menghadap Allah Ta’ala dengan husnul khatimah. Aamiin. [Pirman]

Berita sebelumyaFaktor Utama Kemenangan Kaum Muslimin atas Bangsa Romawi
Berita berikutnya19 Akibat Maksiat Menurut Ibnul Qayyim al-Jauziyah

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.