Sebab Ditolaknya Amalan di Langit Pertama

Pertama kali membaca hadits ini dalam kitab Bidayatul Hidayah tulisan Imam al-Ghazali Rahimahullahu Ta’ala, saya menerawang. Pikiran berkecamuk. Perasaan tak menentu. Sejak kalimat pertama, hadits ini benar-benar membuat saya berpikir, betapa susahnya bagi kita untuk memasuki surga Allah Ta’ala. Butuh perjuangan yang berat. Butuh usaha yang sungguh-sungguh. Tiada layak sedikit pun canda tawa atau meremehkan.

- Advertisement -

Dalam hadits panjang yang dirunut dari Imam Abdullah bin Mubarak sampai sahabat mulia Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu, ada orang yang amalnya banyak nan sempurna tapi tertolak lantaran mengabaikan hal-hal yang terkesan kecil dan remeh dalam pandangan kebanyakan manusia.

Bahwa Allah Ta’ala menciptakan tujuh langit yang dijaga oleh para malaikat. Masing-masing pintu langit dijaga oleh malaikat.

Kelak, dinaikkanlah amalan seorang hamba. Sebelum memasuki pintu langit pertama untuk menuju langit kedua, amalan sang hamba dipuja-puji lantaran istimewanya.

“Suatu saat, sang malaikat pencatat membawa amalan sang hamba ke langit dengan kemilau cahaya bak matahari. Sampai di langit tingkat pertama, malaikat Hafadzah memuji amalan-amalan tersebut.

Tetapi, setibanya di pintu langit pertama, penjaganya berkata kepada malaikat Hafadzah, ‘Tamparkan amalan itu ke muka pelakunya. Aku adalah penjaga orang-orang yang suka mengmpat. Aku diperintahkan agar menolak amalan orang yang suka mengumpat. Aku tidak mengizinkan ia melewatiku untuk mencapai langit berikutnya!’”

Orang ini membawa banyak amalan. Amalannya pun bagus. Amalannya kemilau.  Seterang cahaya mentari. Hampir tidak dijumpai cacat atau kurang di dalamnya. Amat menawan.

- Advertisement -

Namun, amalan orang ini tidak diterima. Tidak lolos menuju langit kedua. Ia hanya bertahan, tak kuasa menembus langit kedua. Sebab, orang ini memiliki kebiasaan mengumpat.

Bisa jadi, orang ini rajin melakukan ibadah ritual. Dia melakukan shalat, puasa, dan ibadah lainnya. Sayangnya, amalan itu tidak diterima. Sebab umpatannya. Sebab mengumpat sudah menjadi salah satu bagian dalam kehidupannya.

Ia tidak hanya mengumpat sekali, tapi berkali-kali. Ia, bisa jadi, tidak hanya mengumpat sesama, tapi juga mengumpat kepada Allah Ta’ala. Padahal, Dia Ta’ala Mahaadil. Padahal, Dia mustahil bertindak keliru atau menzhalimi hamba-hamba-Nya.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -