Ingin Mati Husnul Khatimah? Rutinkan Amalan Ini

Ciri paling akhir dari seorang hamba yang mendapatkan kasih sayang dari Allah Ta’ala, tutur Kiyai Haji Muhammad Arifin Ilham, adalah seorang hamba dimatikan dalam keadaan husnul khatimah. Meski sukar dan langka, husnul khatimah ini bisa diupayakan. Salah satunya, masih berdasarkan penjelasan Kiyai Arifin dalam taushiyah dan dzikir di Masjid al-Istiqomah Lengkong Kulon adalah dengan merutinkan amalan ini.

- Advertisement -

Ialah salah satu jamaah beliau yang meninggal dunia beberapa tahun silam. Seorang laki-laki yang rajin berdzikir dan menduduki jabatan penting di perusahaan daerah air minum (PDAM) bilangan Jakarta.

Laki-laki ini memiliki kebiasaan membaca al-Qur’an sebanyak setengah juz setiap selesai shalat Subuh. Sang suami membaca al-Qur’an di ruang tengah, istrinya menyiapkan minumah hangat. Rutin. Setiap hari.

Hari itu, beliau melakukan kebiasaannya. Pun istrinya. Di tengah-tengah bacaan, beliau terhenti. Menjawab salam sembari menengok ke arah pintu depan. Sang istri bergegas, setengah berlari menuju pintu setelah mendengar suaminya menjawab salam.

Ketika pintu dibuka, tidak ada siapa pun. Dia kembali, melewati suaminya yang duduk tenang memegang mushaf di tangan kanannya.

Saat istrinya mendekat, laki-laki itu memberi isyarat, menaikkan tangan kirinya seraya merangkul sang istri. Sang istri pun menyambut tangan suaminya. Dalam hitungan detik, sang suami mengucap kalimat tauhid, laa ilaha illallah, sebanyak tiga kali. Kepalanya menunduk, melihat mushaf yang dipegang di tangan kanannya. Dan, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Kebiasaan. Itulah di antara kuncinya. Seseorang akan meninggal dunia sebagaimana dia menjalani hidupnya. Yang rajin ke masjid, insya Allah wafat dalam keadaan menuju masjid untuk mendirikan shalat berjamaah. Siapa rutin membaca al-Qur’an, insya Allah diwafatkan dalam keadaan bercengkerama dan berdiskusi dengan Allah Ta’ala saat membaca, mempelajari, dan menadabburi ayat-ayat-Nya.

- Advertisement -

Orang yang rutin mendirikan shalat sunnah Tahajjud, insya Allah diawafatkan dalam keadaan beribadah di sepertiga malam yang terakhir, saat rukuk, i’tidal, dan sujud. Jika hidup dihabiskan untuk berdzikir kepada Allah Ta’ala dalam berbagai suasana, insya Allah dia akan wafat dalam keadaan demikian.

Jadi, apa kebiasaan kita selama ini?

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -