Pintu Terdekat untuk Menuju Allah Ta’ala

Kita sering berpikir dan mengukur kedudukan kita di hadapan sesama manusia. Dan itu sah-sah saja. Seorang istri memikirkan dan mengukur, seberapa berartikah dirinya di hadapan suami, orang tua, anak-anak, keluarga, masyarakat dan tempatnya beraktivitas.

- Advertisement -

Seorang laki-laki mengukur dan memikirkan dimanakah posisinya di hadapan orang tua, istri-istri, anak-anak, keluarga, kaum Muslimin, masyarakat sekitar, atau tempat kerjanya. Itu sah-saha saja.

Sayangnya, kondisi ini tidak disertai dengan pemikiran dan pengukuran terhadap kondisinya sebagai seorang hamba di hadapan Allah Ta’ala. Apakah selama ini kita telah menjadi hamba yang baik? Apakah kita bergegas melakukan semua perintah Allah Ta’ala dan meninggalkan seluruh larangan-Nya? Apakah masih banyak berpkir seraya menimbang? Atau justru banyak membantah atas nama pongah dan kesombongan yang bersemayam di dalam sanubari?

Ketahuilah wahai diri, tiada yang mengetahui kedudukannya di sisi Allah Ta’ala kecuali Dia Yang Maha Mengetahui. Hanya Dia yang mengetahui apakah seorang hamba dinilai mulia, dicintai, dan disediakan baginya surga ataukah hina, dimurkai, dan berhak mendapatkan siksa neraka lengkap dengan seluruh kepedihan dan kesengsaraan di dalamnya?

Hanya Dia Yang Maha Mengetahui. Dan tiada secuil pun pengetahuan bagi diri terkait hal ini.

Oleh karena ketidaktahuan itu pula, kita harus senantiasa memperbaiki iman dan memperbagus amal shalih kemudian memperbanyaknya. Kita harus menuntut imu untuk melakukan amal shalih. Sebab ilmu menjadi syarat bagi amal yang diterima bersamaan dengan ikhlas di dalam sanubari.

Ilmu itu pula yang akan membimbing kita menuju pintu terbaik dalam mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Ialah jalan-jalan yang direkomendasikan oleh para Nabi Shallallahu Alaihi Wa sallam, sahabat-sahabat, dan orang shalih setelahnya.

- Advertisement -

Salah satunya ialah yang disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah terkait pintu yang paling dekat untuk menuju Allah Ta’ala.

“Aku mengetuk beberap pintu untuk menuju Allah Ta’ala,” tulis Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah sebegaimana dikutip oleh Dr ‘Umar ‘Abdul Kafi dalam al-Wa’dul Haq, “untuk menemukan pintu yang paling dekat menuju kehadirat-Nya.”

Setelah lama melakukan pencarian, laki-laki shalih penulis kitab Madarijus Salikin ini memungkasi, “Akhirnya aku menemukan pintu yang paling dekat menuju Allah Ta’ala, ialah merasa rendah diri di hadapan-Nya.”

Ya. Jangan sombong. Tak usah membanggakan diri. Rendahkan dirimu di hadapan-Nya, niscaya Dia akan memuliakan kita. Aamiin.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Kebahagiaan Hakiki, Hikmah dari Cerita Danau Sebening Air Mata

Seorang pemuda mengembara sekian lama demi menemukan hakikat kebahagiaan. Ia bertanya pada banyak orang. Juga para sufi. Apa itu kebahagiaan hakiki.

Kisah di Balik Lahirnya Buku Cinta Sehidup Sesurga

Cinta Sehidup Sesurga adalah sebuah buku inspirasi merawat cinta. Banyak kiat-kiat di dalamnya yang jika dipraktikkan dalam pernikahan, insya Allah suami istri...

Mengapa Jin Tak Berani Mengganggu Orang yang Membaca Ayat Kursi?

Mengapa jin tak berani mengganggu orang yang membaca ayat kursi? Berikut ini penjelasan ilmiah dan logisnya. Jin Sendiri Mengaku...

Rasulullah Tak Mengerjakan, Mengapa Puasa Tasua Jadi Sunnah?

Dua di antara amalan bulan Muharram adalah puasa tasua dan puasa asyura. Rasulullah biasa mengerjakan puasa asyura bahkan sangat mengutamakan. Namun puasa...