Orang yang Punggung dan Tengkuknya Disetrika dengan Besi Panas

Tiada cara lain untuk meyakini dahsyatnya hisab kecuali dari keterangan al-Qur’an dan hadits-hadits shahih Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Di antaranya, ada orang yang punggungnya disetrika dengan besi hingga tembus ke lambung, dilanjutkan dengan disetrika di tengkuknya hingga tembus ke keningnya.

- Advertisement -

Siapakah mereka?

Al-Ahnaf bin Qais sedang bersama beberapa orang Quraisy pada suatu siang. Tak lama kemudian, lewatlah sahabat Abu Dzar al-Ghifari. Katanya memberitahukan, “Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang menimbun hartanya dengan besi panas yang disetrikakan di punggungnya hinga tembus ke lambungnya, dan disetrika tengkuknya hingga tembus ke keningnya.”

Lepas menyampaikan kalimat itu, Abu Dzar pun berlalu seraya mencari tempat untuk menyendiri. Lalu, al-Ahnaf bin Qais yang belum mengenalnya pun bertanya kepada orang-orang Quraisy, “Siapakah lelaki barusan itu?”

“Ia,” jawab orang-orang Quraisy, “adalah abu Dzar al-Ghifari.”

Al-Ahnaf bin Qais pun bergegas mendatangi sosok yang baru dikenalnya itu. Sampai di dekatnya, ia bertanya, “Ucapan apakah yang baru saja aku dengar darimu?”

“Aku tidak berkata,” jelas Abu Dzar, “kecuali sesuatu yang aku dengar dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

- Advertisement -

Selanjutnya, al-Ahnaf bin Qais pun bertanya, “Apa pendapatmu tentang pemberian (ini)?”

Jawab Abu Dzar, “Ambillah. Sebab, ia akan menjadi penolongmu pada suatu hari.”

“Namun,” lanjut Abu Dzar, “jika ia merupakan harga untuk membeli agamamu, maka tolaklah.”

Demikian itulah balasan bagi siapa saja yang menimbun hartanya. Kelak, harta yang tidak disalurkan di jalan Allah Ta’ala itu akan menjadi sarana siksa bagi pemiliknya. Harta hanya akan menjadi penolong ketika disalurkan di jalan Allah Ta’ala. Baik melalui zakat harta jika sudah mencapai nishabnya, atau diberikan kepada yang berhak melalui sedekah, infaq, wakaf, dan hadiah.

Bahkan, sedekah satu butir kurma yang diberikan secara ikhlas bisa menjadi penolong bagi seorang hamba agar ia layak mendapatkan warisan surga-Nya Allah Ta’ala. Sebaliknya, sebanyak apa pun kepemilikan kita terhadap fasilitas duniawi, jika ianya membuat kita semakin jauh dari Allah Ta’ala, maka tak ada balasan baginya kecuali siksa yang abadi di neraka kelak. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Kisah di Balik Lahirnya Buku Cinta Sehidup Sesurga

Cinta Sehidup Sesurga adalah sebuah buku inspirasi merawat cinta. Banyak kiat-kiat di dalamnya yang jika dipraktikkan dalam pernikahan, insya Allah suami istri...

Mengapa Jin Tak Berani Mengganggu Orang yang Membaca Ayat Kursi?

Mengapa jin tak berani mengganggu orang yang membaca ayat kursi? Berikut ini penjelasan ilmiah dan logisnya. Jin Sendiri Mengaku...

Rasulullah Tak Mengerjakan, Mengapa Puasa Tasua Jadi Sunnah?

Dua di antara amalan bulan Muharram adalah puasa tasua dan puasa asyura. Rasulullah biasa mengerjakan puasa asyura bahkan sangat mengutamakan. Namun puasa...

Kisah Ghibah di Zaman Nabi, Ketika Benar Tercium Bau Bangkai

Saat membaca Surat Al Hujurat ayat 12, kita memahami bahwa ghibah itu ibarat memakan daging saudara sendiri yang telah mati. Namun tahukah...