Orang Iran (yang) Masuk Surga, Orang Arab (yang) Mendekam di Neraka

Islam adalah agama yang diridhai Allah Ta’ala. Islam merupakan ajaran yang selamat dan menyelamatkan, menyeluruh, sempurna dan menyempurnakan, mengatur semua persoalan yang dihadapi oleh umat manusia.

- Advertisement -

Islam adalah jaminan kebahagiaan di dunia dan keselamatan abadi di akhirat. Orang Islam yang beriman dan beramal shalih, baginya garansi surga oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam.

Sebaliknya, siapa yang berlaku kafir, musyrik, dan munafiq, tiada kesudahan yang lebih baik baginya kecuali neraka dengan nyala apinya yang membara dan tak pernah padam jika meninggalkan dunia sebelum bertaubat kepada Allah Ta’ala.

Maka surga dan neraka adalah haq yang tidak ditentukan sedikit pun oleh daerah asal seseorang, tempat tinggal, atau tempat dia meninggal. Surga dan neraka tidak pula ditentukan lantaran nasab, dan hal-hal lain, kecuali keyakinan sebagai Muslim, beriman, dan gegas dalam melakukan amal shalih dengan niat yang tulus karena Allah Ta’ala.

Salman al-Farisi, salah satu contohnya. Sosok ini merupakan mantan penjaga kuil para penyembah api. Merupakan sosok pencari kebenaran sejati yang tak pernah lelah berjalan. Berpindah dari satu pendeta ke pendeta lain. Sosok yang merupakan penemu strategi dalam Perang Khandaq ini bertemu dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, masuk Islam, istiqamah dalam iman hingga meninggal dunia dalam keadaan Muslim.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam menyebutkan, Salman al-Farisi berhak untuk masuk dan menetap dalam surga, tempat penuh kenikmatan yang abadi. Salman al-Farisi berasal dari negeri Iran, tempat dimana agama syi’ah tumbuh dan berkembang pesat.

Berkebalikan dengan Salman al-Farisi, ada begitu banyak orang yang justru menolak Islam dan berada di barisan kafir, musyrik, atau munafiq. Nama-nama mereka abadi dalam sejarah sebagai orang buruk dan bercokol di neraka, abadi di dalamnya.

- Advertisement -

Ialah Abu Lahab, Abu Jahal, dan kafir Quraisy lainnya. Lihatlah, mereka masih memiliki nasab dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, lahir, besar, dan mati di Tanah Suci-Arab Saudi.

Hendaknya hal ini menjadi perhatian bagi siapa pun kita. Jangan pernah tertipu dengan nasab, asal daerah, dan semua asesoris lainnya. Dari dua contoh ini, kita benar-benar mendapatkan bukti adanya orang asal Iran-tempat lahir dan berkembangnya agama syi’ah-yang dimasukkan ke dalam surga dan orang Arab Saudi yang justru memusuhi Islam lalu dijebloskan ke dalam siksa neraka.

Tentu, ini bukan pembenaran. Syi’ah tetaplah sesat. Islamlah yang paling mulia. Syi’ah bukan Islam.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Kebahagiaan Hakiki, Hikmah dari Cerita Danau Sebening Air Mata

Seorang pemuda mengembara sekian lama demi menemukan hakikat kebahagiaan. Ia bertanya pada banyak orang. Juga para sufi. Apa itu kebahagiaan hakiki.

Kisah di Balik Lahirnya Buku Cinta Sehidup Sesurga

Cinta Sehidup Sesurga adalah sebuah buku inspirasi merawat cinta. Banyak kiat-kiat di dalamnya yang jika dipraktikkan dalam pernikahan, insya Allah suami istri...

Mengapa Jin Tak Berani Mengganggu Orang yang Membaca Ayat Kursi?

Mengapa jin tak berani mengganggu orang yang membaca ayat kursi? Berikut ini penjelasan ilmiah dan logisnya. Jin Sendiri Mengaku...

Rasulullah Tak Mengerjakan, Mengapa Puasa Tasua Jadi Sunnah?

Dua di antara amalan bulan Muharram adalah puasa tasua dan puasa asyura. Rasulullah biasa mengerjakan puasa asyura bahkan sangat mengutamakan. Namun puasa...