Kisah Sukses Dullah Rochmad setelah 18 Tahun Menjadi Loper Koran

Banyak jalan menuju sukses. Ada ribuan cara yang bisa ditempuh demi menggapai kebaikan yang kita cita-citakan. Maka keterbatasan dan mudahnya beralasan haruslah disingkirkan. Sebab itulah pemicu gagal yang pertama dan utama.

- Advertisement -

Dari banyak dan panjangnya langkah menggapai bahagia bernama sukses itu, semuanya selalu dimulai dari langkah pertama. Dan, biasanya langkah pertama itu kecil, bahkan nekat. Hanya modal yakin bahwa Allah Ta’ala akan berikan yang terbaik bagi siapa yang bersungguh-sungguh.

Dullah Rochmad. Demikian nama lelaki ini. Terlahir dari keluarga yang miskin membuatnya terancam tidak bisa melanjutkan pendidikan. Ayahnya hanya tukang becak. Dan ibunya berjualan di pasar. Tuturnya lugas, “Jangankan untuk biaya sekolah, untuk makan saja kurang.”

Dullah yang saat itu masih duduk di bangku kelas dua sekolah menengah pertama pun berpikir. Ia tak ingin citanya pada dunia pendidikan kandas hanya karena biaya. Maka, sejak saat itu, ia mengazamkan diri untuk berjualan koran. Modalnya adalah nekat yang dibumbui harapan kebaikan yang banyak.

Memulai debutnya sebagai loper koran, lelaki kelahiran Bandar Kidul Mojoroto ini hanya bisa menjual 10 sampai 15 eksemplar perhari. Sedikit. Tapi, kesabarannya memang tahan banting. Seperti itu setiap hari, diiringi hidup prihatin dengan senantiasa panjatkan pinta, hasil yang didapat pun bisa digunakannya untuk membiayai sekolah hingga lulus pendidikan menengah atas di Kediri sekitar tahun 1997.

Lulus MAN (Madrasah Aliyah Negeri), Dullah bersikeras untuk melanjutkan bisnisnya, tak lelah berupaya dan mencari berbagai macam terobosan agar pekerjaannya itu semakin meningkat. Hingga terbilang delapan belas tahun sejak debut bisnis loper korannya yang pertama, jumlah koran yang terjual perhari mencapai angka seribu eksemplar.

Belum lagi dengan meningkatnya permintaan pasar. Pelanggannya menginginkan tabloid dan majalah lokal juga nasional dalam jumlah ratusan eksemplar perbulannya. Tercatat di tahun itu, Dullah memiliki sekitar 30 karyawan dan beberapa aset bangunan yang dijadikannya sebagai lapak.

- Advertisement -

Apa yang dilakukan oleh Dullah adalah tafsir paling nyata tentang makna kesungguhan. Niat yang benar demi melanjutkan pendidikan, disambung dengan keinginan hidup mulia, diikuti upaya sungguh-sungguh yang tak kenal lelah. Maka, kombinasi waktu dan langkah yang tampak sederhana pun menjadi bukti nyata, bahwa sukses bukanlah mimpi.

Bagaimana dengan Anda, sahabat Kisahikmah? [Pirman]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -