Kisah Nyata Kebaikan Kecil Berbalas Agung

Teruslah berbuat baik. Jangan ditunda. Sekecil apa pun, mulailah. Niatkan untuk istiqamah hingga akhir hayat. Selain berharap husnul khatimah, kebaikan akan abadi, melintasi zaman. Apalagi jika dikerjakan dengan tulus dan ikhlas. Kebaikan-kebaikan itulah yang akan dikenang, meski kecil, remeh, dan biasa-biasa saja dalam penilaian manusia.

- Advertisement -

Tersebutlah seorang pemuda yang mengurusi seorang bapak di rumah sakit. Sang pasien sudah tua. Penyakitnya parah. Tak ada keluarga. Seorang diri. Ia tak mampu untuk sekadar memenuhi kebutuhan diri, seperti makan, mandi, buang air, dan lain sebagainya.

Pemuda ini pun mengambil peran membantu. Tulus. Sabar. Membantu memandikan. Senantiasa menyuapi. Mengurus buang air hingga membersihkan. Semuanya. Dikerjakan dengan teliti dan hati-hati, agar sang bapak tak dikenal ini merasa nyaman.

Jika si pemuda merupakan anak atau keluarga sang bapak, hal itu tentu saja bukan sesuatu yang besar. Namun, si pemuda ini bukan siapa-siapanya. “Saya bukan anak atau keluarganya,” tutur si pemuda tatkala ditanya oleh dokter dan perawat di rumah sakit.

Lantas, apakah yang memotivasi pemuda ini? Alasan apa yang membuat dirinya begitu tulus dan mau meluangkan waktunya? Padahal bukan anak atau keluarga. Dia, tentu saja, memiliki banyak kegiatan yang bisa dikerjakan terkait pribadi maupun urusan masa depannya.

Hingga suatu hari, sang pemuda menyampaikan pengakuan. Katanya tulus, “Manisnya permen yang dia berikan saat saya masih kecil masih terasa di lidahku. Saat itu, aku sangat membutuhkan permen itu. Dia memberikannya dengan amat tulus.”

Hanya permen. Kecil. Sederhana. Harganya juga tidak mahal. Tapi, amat membekas. Tapi, besar pengaruhnya. Meski kecil dan tak berharga, permen itulah yang menjadi sebab bagi si bapak tak dikenal ini dalam mendapatkan kebaikan sebesar itu di masa tuanya, ketika tiada lagi anggota keluarga yang mengurusinya.

- Advertisement -

Teruslah berbuat baik. Belajarlah untuk ikhlas. Tiada amalan itu disebut kecil, andai ikhlas dan dikerjakan secara dawam. Sebaliknya, sebesar apa pun sebuah amal, jika hanya diniatkan untuk manusia dan hanya dikerjakan sekali seumur hidup, bisa jadi amalan itu bernilai kecil. Bahkan, ianya bisa menjadi sebab dimasukkannya seseorang ke dalam neraka yang menyala siksanya.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Inilah Ayat yang Membuat Umar Masuk Islam

Kemarahan Umar bin Khattab memuncak. Ia merasa agama baru telah membuat ajaran nenek moyangnya terinjak-injak. Maka ia ambil pedang, lalu pergi untuk mengakhiri apa...

Jenazah Utuh Thalhah bin Ubaidillah Saat Makamnya Dipindah

Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu gugur sebagai syahid pada Perang Jamal. 30 tahun kemudian, saat kaum muslimin memindahkan makamnya, mereka menyaksikan sebuah keajaiban. Jenazah...

Kisah Umar Marah kepada Abu Bakar Melebihi Marahnya kepada Utsman

Umar bin Khattab pernah marah kepada beberapa sahabat, terutama Abu Bakar Ash Shiddiq. Saat itu Umar sedang berduka karena menantunya meninggal dunia sehingga putrinya...

Penasaran Hadits Ini, Istri-Istri Nabi Mengukur Panjang Tangannya

Para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mencintai beliau. Tak hanya ingin menemani beliau di dunia, para ummul mukminin juga ingin segera menyusul Rasulullah...