Kisah Nestapa; Cacat, Dikasari, Dicerai setelah Miliki Satu Anak

Perjalanan hidup adalah misteri. Suka-duka bagai koin yang dilempar ke angin berkali-kali hingga hasilkan gambar yang berbeda. Tak bisa pula disamakan satu dengan yang lainnya. Sebab, Allah Ta’ala pasti miliki hikmah atas setiap perjalanan hidup hamba-Nya.

- Advertisement -

Wanita ini, diuji dengan hal yang tak biasa. Cacat. Dua tangannya memiliki panjang yang tak sama. Pun, dua kakinya; berbeda panjang antara satu dengan yang lainnya. Pernah bekerja sebagai sales di sebuah perusahaan. Empat bulan; tak digaji. Hanya ditempatkan di sebuah mess dan dua kali makan dalam sehari. Memang, dalam kontrak, ia hanya diberi gaji jika mendapatkan pembeli.

Kisah cintanya pun memilukan. Pedih. Sedih. Perih. Menikah. Mulanya, bunga merekah di setiap detik. Dimana-mana ada cinta. Senyum sumringah, tawa dan canda. Semua yang terjadi adalah bahagia. Tak ada sedih atau luka.

Sayangnya, waktu tak bisa dicegah tuk berlalu. Bahagianya itu hanya bertahan selama dua tahun. Duh, andai masa dua tahun bisa diulangi atau dicegah tuk tak beranjak, barang kali itulah opsi yang akan dipilih oleh wanita ini. Tapi, mustahil meminta kepada Allah Ta’ala untuk memundurkan mentari atau mencegahnya tuk beredar. Sebab, itulah sunnatullah.

Lepas dua tahun, padahal dari cinta nan merekah itu telah lahir seorang bayi kecil, mungil, lucu, dan menggemaskan, asmara sang suami seperti habis. Entah karena ada cinta lain, atau sebab lainnya, sang wanita ini tidak benar-benar tahu.

Cinta suaminya seperti habis. Sayangnya makin surut tanpa sisa. Bahkan, andai cinta bak matematika, nilainya mungkin saja minus sekian angka. Banyak. Tak terhitung. Lantaran itu pula, tak ada lagi bisikan mesra, kecupan cinta, pelukan sayang, apalagi hubungan penuh kasih. Semuanya hilang! Mesra dan romantis hanya ada di buku, puisi, atau novel cinta!

Seperti cinta yang tak lagi mengalir, begitu pun dengan nafkah. Padahal, sifatnya wajib. Dari suami ke istri. Tetapi, si wanita tak lagi mendapatkannya. Sang suami lalai. Atau sengaja. Entahlah. Lalu, nestapa makin memuncak ketika ia, suaminya itu, menunjukkan kelelakiannya secara salah dan serampangan. Kasar. Sering memukul setelah sebelumnya hobi marah-marah.

- Advertisement -

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Tak kuasa rasanya menuliskan kisah. Hingga akhirnya, ia diceraikan. Laa haula wa laa quwwata illa billaah. Semoga Allah Ta’ala menguatkan muslimah ini. Aamiin ya Rabb… [Pirman/Kisahikmah]

Sumber: Kisah nyata dalam buku Man Shabara Zhafira, Ahmad Rifa’i Rif’an. Ditulis ulang secara bebas dengan tidak mengurangi esensi kisah.

- Advertisement -

Terbaru

Kisah di Balik Lahirnya Buku Cinta Sehidup Sesurga

Cinta Sehidup Sesurga adalah sebuah buku inspirasi merawat cinta. Banyak kiat-kiat di dalamnya yang jika dipraktikkan dalam pernikahan, insya Allah suami istri...

Mengapa Jin Tak Berani Mengganggu Orang yang Membaca Ayat Kursi?

Mengapa jin tak berani mengganggu orang yang membaca ayat kursi? Berikut ini penjelasan ilmiah dan logisnya. Jin Sendiri Mengaku...

Rasulullah Tak Mengerjakan, Mengapa Puasa Tasua Jadi Sunnah?

Dua di antara amalan bulan Muharram adalah puasa tasua dan puasa asyura. Rasulullah biasa mengerjakan puasa asyura bahkan sangat mengutamakan. Namun puasa...

Kisah Ghibah di Zaman Nabi, Ketika Benar Tercium Bau Bangkai

Saat membaca Surat Al Hujurat ayat 12, kita memahami bahwa ghibah itu ibarat memakan daging saudara sendiri yang telah mati. Namun tahukah...