Karena 3 Unsur Ini, Tasawuf Tidak Sesat! (3)

Lanjutan dari Karena 3 Unsur Ini, Tasawuf Tidak Sesat! (2)

Unsur Ibadah

Di dalam unsur ketiga ini, banyak kelompok tasawuf yang akhirnya menempuh jalan buntu, lalu tersesat. Banyak di antara mereka yang berusaha memodifikasi amalan hingga terjerumus ke dalam hal-hal yang tiada pernah dijumpai sebelumnya. Bahkan, ada banyak sekali murid sufi yang bilangan kajian dan ibadahnya baru dalam masa hitungan bulan, tapi sudah sok-sok-an hingga menciptakan ibadah baru.

- Advertisement -

Maka benar atau tidaknya unsur ketiga ini sangat erat pengaruhnya dengan unsur pertama dalam tasawuf ini, unsur ilmu. Dengan ilmu, seorang salik akan bisa mengetahui, apakah sebuah ibadah dibenarkan, dibuat-buat, atau merupakan ajaran iblis yang dibungkus dengan syubhat kewalian.

Maka para sufi, yang sejati, ialah orang-orang yang sangat berhati-hati dalam menjalani hidup, lebih-lebih lagi dalam soal ibadah. Misalnya, para sufi tidak mau memakan makanan sebelum mengetahui kehalalannya. Mereka juga sangat menjaga diri dari hidangan penguasa, sebab ada syubhat di dalamnya.

Terkait kesucian pakaian pun demikian. Mereka tidak akan menghadap kepada Allah Ta’ala dalam shalat, kecuali memastikan bahwa pakaian, tempat, dan dirinya dalam keadaan suci. Alhasil, kesibukan mereka adalah mensucikan diri dengan senantiasa menjaga wudhu dan memperbanyak aktivitas dzikir kepada Allah Ta’ala.

Para sufi, yang benar, juga merupakan sosok yang sangat teguh dalam menjalankan sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ketersambungannya kepada Nabi bukan hanya soal fiqih, tapi juga mengupayakan koneksi hati dengan manusia paling mulia, imam para Utusan Allah Ta’ala, dan Nabi yang terakhir diutus itu.

Ibadah-ibadah ini pula yang menjadi salah satu ciri sufi sejati. Ia tidak akan menghabiskan waktunya dalam ghibah, dosa, atau maksiat. Kesibukan mereka adalah dzikir, dalam berbaring, duduk, dan bangunnya. Dalam tiap hela nafasnya, ada kalimat allah Ta’ala yang terlantun. Dalam tatapan teduhnya, mereka membuat yang memandang ingat kepada Allah Ta’ala.

Unsur ibadah ini pula yang membedakan para sufi sejati dengan sufi jadi-jadian. Sebab sufi jadi-jadian akan sukar melakukan ibadah, lidahnya keluh dan kaku saat menyebut nama Allah Ta’ala, badannya enggan digerakkan dalam ibadah-ibadah ritual dan sosial untuk mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala.

- Advertisement -

Maka saat ada orang yang sibuk berkata ‘tasawuf sesat!’ tapi dia jarang shalat Subuh di masjid, bisa jadi ia tengah mengigau atau salah menuduh.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -