Jika Jawabannya ‘Mau’, Anda adalah Orang Miskin

Sejumlah riwayat shahih menyebutkan bahwa orang miskin yang sabar lebih utama di banding orang kaya yang rakus. Bahkan, dalam sebuah riwayat disebutkan, orang miskin masuk surga lebih cepat lima ratus tahun di banding orang kaya. Karena orang kaya mendapati hisab yang panjang terkait hartanya.

- Advertisement -

Lalu, timbullah pertanyaan, “Siapakah sebenarnya orang yang disebut miskin atau kaya?”

Secara sederhana, sebagian kita menisbatkan julukan miskin pada orang yang hartanya sedikit atau yang tidak mempunyai harta sama sekali. Padahal, sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat, orang-orang yang miskin secara harta memiliki sejumlah keutamaan yang tidak didapatkan pada orang yang kaya secara materi.

Suatu hari, datanglah seorang laki-laki mendatangi Ibrahim bin Adham. Laki-laki yang membawa jubah ini berkata, “Wahai Abu Ishaq, aku berharap agar engkau mau menerima jubah pemberianku ini.”

“Aku,” jawab Ibrahim bin Adham, “mau menerima jubah itu jika engkau orang kaya. Tapi, jika engkau miskin, aku tidak mau menerimanya.”

“Aku,” jawab laki-laki itu sampaikan pengakuan, “merupakan orang kaya.”

“Berapa jumlah kekayaanmu?” tanya Ibrahim lebih lanjut.

- Advertisement -

“Dua ribu dinar,” ujar si laki-laki.

“Maukah engkau,” ujar Ibrahim menawarkan, “jika kekayaanmu itu menjadi empat ribu dinar dari sebelumnya dua ribu dinar?”

“Tentu saja,” tegas si laki-laki, “mau!”

“Jika demikian,” simpul Ibrahim bin Adham sebagaimana dikutip oleh Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam menjelaskan Risalah al-Mustarsyidin tulisan Imam al-Harits al-Muhassibi, “engkau merupakan orang miskin. Aku tidak mau menerima jubah pemberianmu.”

Dari riwayat ini, kita bisa mengambil beberapa kesimpulan.

  1. Orang yang miskin secara materi memiliki kemuliaan di banding orang yang kaya dalam hal hisab.
  2. Orang miskin bukan hanya dinisbatkan pada mereka yang jumlah kekayaannya sedikit. Miskin juga dinisbatkan kepada orang kaya yang hasratnya terhadap harta mash besar.
  3. Orang inilah yang tidak pernah puas dengan sebanyak apa pun harta yang dimiliki.
    Sebaliknya, jika pun jumlah kekayaannya sedikit, tapi memiliki kadar syukur yang besar dan merasa cukup dengan pemberian Allah Ta’ala, itulah orang kaya yang sejati. Inilah orang yang paling kaya sebagaimana dijelaskan oleh Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu.
- Advertisement -

Jadi, jika pertanyaan ini disampaikan kepada Anda dan jawabannya ‘Mau’, maka Anda termasuk orang miskin sebagaimana penjelasan Ibrahim bin Adham.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Kisah Pemuda Melamar Calon Istri Kedua dengan Kata-Kata Bilal

Pemuda itu galau. Ia jatuh cinta kepada seorang gadis padahal dirinya sudah menikah. Hari demi hari, dirasakannya cinta makin merasuk ke jiwa....

Boleh Jadi Kamu Membenci Sesuatu, Padahal Ia Amat Baik Bagimu

“Yah, kenapa sih mobil kita kecil? Sudah sesak nih,” kata seorang anak kepada ayahnya saat mereka berlima bepergian menuju sebuah tempat wisata.

Nama Istri-Istri dan Anak-Anak Abu Bakar Ash Shiddiq

Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu memiliki enam orang anak. Seluruhnya menjadi tokoh-tokoh di zamannya, dalam berbagai bidang yang berbeda.

4 Keutamaan Wudhu yang Mencengangkan

Karena sering dilakukan, kadang wudhu dianggap biasa saja dan disepelekan. Padahal, keutamaan wudhu itu luar biasa. Wudhu adalah cara...