Kiat dari Abdullah bin Mas’ud Agar Jadi Orang Terkaya

0
sumber gambar: s3.amazonaws.com

Banyak orang yang meletakkan predikat kaya kepada sosok-sosok yang paling banyak harta, asetnya melimpah, saldo tabungannya membengkak, dan kriteria-kriteria duniawi lainnya. Sebaliknya, bagi mereka yang rumahnya masing mengontrak, saldo tabungannya tak lebih dari enam dijit angka nolnya, dan tak memiliki kendaraan pribadi, masyarakat pun langsung menisbatkan kata miskin kepadanya.

Padahal, sebagai orang Islam, kita dituntut untuk menilai segala sesuatu berdasarkan sudut pandang yang disampaikan oleh Allah Ta’ala di dalam al-Qur’an, sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sahabat-sahabat dan seluruh penerusnya dari kalangan ulama Rabbani.

Salah satu sudut pandang itu, sebagaimana disebutkan oleh Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu. Beliau menyebutkan tentang kiat agar seorang hamba dikarunia kekayaan sejati. Agar menjadi orang terkaya.

“Abdullah bin Mas’ud berkata,” tulis Imam al-Harits al-Muhassibi dalam Risalah al-Mustarsyidin, “Bersikap relalah dalam menerima pembagian Allah Ta’ala, niscaya Anda menjadi orang yang paling kaya. Jauhilah apa yang Allah Ta’ala haramkan bagimu, niscaya Anda menjadi manusia yang paling wara’.”

Orang kaya dalam sudut pandang Islam bukanlah mereka yang memiliki harta paling banyak, lalu menumpuk dan menolak mengeluarkan hak-hak harta di jalan Allah Ta’ala serta kepada mereka yang berhak menerimanya.

Dalam sudut pandang Islam, orang-orang seperti ini dikategorikan sebagai manusia yang miskin karena hatinya tersandra dengan dunia. Tiada kesibukannya kecuali memburu harta, jabatan, dan wanita. Tiada yang dipikirkannya kecuali cara-cara licik untuk menggapai sekian target duniawi.

Dalam Islam, seseorang disebut kaya ketika dirinya tidak tergantung dengan dunia. Mereka mencari dunia, tapi untuk bekal akhirat. Lantaran sikap ini pula, ada begitu banyak kaum Muslimin yang dikejar-kejar oleh dunia, justru ketika mereka meninggalkan dan tidak sedikit pun berhasrat dengan dunianya.

Mereka rela dengan apa dan berapa pun yang diberikan oleh Allah Ta’ala. Mereka ikhlas. Mereka ridha. Mereka tidak pernah melihat jumlah, tapi senantiasa memperhatikan Zat yang telah memberinya rezeki. Mereka senantiasa menganggap pemberian Allah Ta’ala sebagai sesuatu yang agung, pun jika jumlahnya sedikit dalam pandangan manusia pada umumnya.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

Berita sebelumyaKisah Istri Cerdas yang Selamatkan Suami dan Anaknya dari Hukuman Mati
Berita berikutnyaKisah Nyata: Bangkrutnya Si Pengusaha karena Hal Remeh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.