Cara Mengetahui Tingkat Keshalihan Seseorang dari Caranya Meludah

Islam merupakan rahmat bagi semesta alam. Ialah agama yang menyeluruh, sempurna, dan menyempurnakan. Agama yang mengatur seluruh persoalan, dari yang paling rumit dan besar sampai perkara yang dianggap sederhana dan mudah.

- Advertisement -

Di dalam Islam, kita tidak boleh menilai seseorang shalih atau tidak berdasarkan yang terlihat. Sebab Islam adalah perpaduan paling harmonis antara fisik, akal, dan ruhani. Islam adalah kombinasi menawan antara syari’at, thariqah, dan hakikat.

Tidaklah salah satunya ditinggalkan, kecuali terdapat ketimpangan di dalamnya.

Imam Abu Yazid pernah mengajak muridnya untuk mendatangi seorang laki-laki yang dianggap wali. Keduanya melihat laki-laki itu keluar rumah menuju masjid.

Keduanya hanya mengamati si laki-laki. Tak lama setelah itu, si laki-laki meludah ke arah kiblat. Melihat apa yang dilakukan si laki-laki, Imam Abu Yazid langsung pergi tanpa mengucap salam kepadanya.

Katanya, “Orang ini tidak bisa dipercaya dalam salah satu etika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, lalu bagaimana dia bisa dipercaya dalam klaimnya (sebagai seorang wali)?”

Mungkin, perkara ludah dan meludah ini amat sederhana bahkan diremehkan oleh sebagian besar kita, kaum Muslimin. Ludah dan meludah hanyalah persoalan remeh yang tak perlu dipanjang-lebarkan. Padahal, dari kisah yang dialami oleh Imam Abu Yazid dan muridnya ini ada hal besar terkait meludah.

- Advertisement -

Cara meludah bisa dijadikan satu di antara sekian parameter untuk menilai shalih atau tidaknya seseorang.

Diriwayatkan dari berbagai sumber, salah satu karakter Luqman al-Hakim hingga namanya diabadikan sebagai nama surat di dalam al-Qur’an bahwa beliau sangat jarang terlihat meludah, berkeringat, buang ingus, atau buang air.

Terkait meludah ini, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam juga telah memberikan berbagai panduan. Kita dilarang meludah ke arah kiblat, terutama saat shalat, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari Rahimahullahu Ta’ala. Tidak dianjurkan pula meludah ke arah kanan, karena di sana ada malaikat.

Yang dibolehkan hanya meludah ke arah kiri dan ke bawah, di antara dua kaki, lalu menutupi bekas ludah dengan tanah atau pasir atau menyiramnya.

Jadi, jangan meludah sembarangan ya. Karena itu menunjukkan kualitas diri kita.

- Advertisement -

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Nasehat Rasulullah Ini Mak Jleb Buat Kita di Bulan Syawal

“Ayo, mana yang lain?” Admin ODOJ mengingatkan di grup. Banyak yang belum tuntas tilawah harian. Pertengahan Syawal telah lewat, namun setoran juz...

Kisah Imam Ahmad dan Dahsyatnya Istighfar Penjual Roti

Sebelum meninggal, Imam Ahmad rahimahullah menceritakan bahwa suatu waktu dalam hidupnya, ketika usianya mulai tua, tiba-tiba muncul keinginan untuk mengunjungi satu kota...

Habis Idul Fitri Langsung Puasa Syawal, Ini Keutamaannya

Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriyah jatuh pada hari Ahad, 24 Mei 2020. Senin, 2 Syawal 1441 bertepatan dengan 25 Mei 2020,...

Lailatul Qadar Jatuh pada Malam 27 Ramadhan? Ini Dalil dan Tandanya

Lailatul Qadar jatuh pada malam berapa? Tak ada seorang pun yang bisa memastikannya. Namun ada dalil hadits yang menunjukkan secara umum, kemudian...