Inilah yang Paling Dikhawatirkan Rasulullah

musuhRasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah sosok yang amat mencintai umat-umatnya. Bukan hanya mereka yang hidup sezaman dan seperjuangan, Rasulullah juga amat mencintai umatnya yang berbeda generasi dengan beliau.

- Advertisement -

Karena cinta itu pula, satu kata yang diulang sebanyak tiga kali di akhir kehidupan dunia Rasulullah adalah, “Ummatku, ummatku, ummatku.”

Di antara wasiat-wasiat cinta Sang Nabi, beliau banyak menuturkan amalan-amalan yang seharusnya diperbanyak, dan amalan-amalan yang wajib dihindari demi keselamatan umatnya.

Dalam banyak sabdanya, Nabi juga menyebutkan kekhawatiran-kekhawatiran beliau kepada umatnya. Hal ini adalah salah satu penekanan bahwa ada hal yang besar di balik apa yang beliau khawatirkan.

Sebagaimana disebutkan dalam riwayat Imam Tirmidzi, ada yang bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apa yang paling engkau khawatirkan atas diriku?” Dalam riwayat hasan shahih ini, Rasulullah memberikan jawaban dengan isyarat mengambil (menunjukkan) lidahnya.

Lidah. Itulah di antara hal yang paling dikhawatirkan Nabi atas umatnya. Sebab melalui lidah, seseorang bisa dimasukkan ke dalam surga ataupun sebaliknya.

Dalam sabda yang lain Nabi juga menyebutkan bahwa selamatnya orang-orang yang beriman tergantung pada bagaimana mereka menjaga apa yang teletak di bawah rahang (lisan/lidah) dan pada apa yang terletak di antara paha (kemaluan).

- Advertisement -

Menjaga lisan juga menjadi parameter keistiqamahan seorang muslim. Tatkala ia berhasil menjaga lisannya, maka hal itu menjadi salah satu parameter bisa atau tidaknya ia dalam menjaga keistiqamahan hatinya.

“Tidak akan istiqamah iman seorang hamba,” sabda Nabi dari Anas bin Malik, “sampai istiqamah hatinya.” Lanjut Rasulullah sebagaimana disebutkan dalam riwayat Imam Ahmad dan tercantum dalam Musnadnya, “Dan tidak akan istiqamah hatinya,” tutup Sang Nabi, “Sampai istiqamah lisannya.”

Itulah peran sentral lisan. Ia bisa menjadi pangkal keselamatan saat sibuk dengan dzikir, dakwah, tilawah al-Qur’an, dan menghindari kesia-siaan.

Sebaliknya, ketika lisan seseorang sibuk dengan fitnah, ghibah, adu domba, desas-desus, celaan, hinaan, caci maki, dan perbutan buruk lainnya, maka itulah kebinasaan yang menyebabkan pelakunya terjerumus dalam siksa neraka yang abadi.

Semoga Allah Ta’ala memberikan kekuatan kepada kita dari keerjerumusan lisan ke dalam lembah neraka yang hina, sehina-hinanya. Aamiin. [Pirman]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -