Hikayat Pemabuk yang Menebas Leher Setan

Tersebutlah dua orang dalam sebuah hikayat. Laki-laki. Yang pertama adalah ahli ibadah tetapi minim ilmunya. Sedangkan sosok kedua adalah seorang yang berilmu, tetapi memiliki kebiasaan yang buruk. Di antaranya, meski berilmu, ia sering meminum mengonsumsi minuman keras. Sangat disayangkan.

- Advertisement -

Sebagaimana biasanya, setan yang merupakan musuh utama umat manusia senantiasa menggoda agar kedua laki-laki ini terjerumus dalam kesalahan. Maka, pada suatu hari, setan pun mendatangi laki-laki pertama untuk menggoda. Dalam kesempatan tersebut, setan mengubah wujudnya. Menyerupai sesosok manusia.

Saat mendatangi laki-laki pertama, setan mendapatinya tengah melakukan ibadah. Terlihat khusyuk. Sosok pertama ini memang amat terkenal sebagai orang shalih. Shalat, membaca al-Qur’an, dzikir, dan beragam jenis ibadah ritual lain adalah kebiasaannya saban hari.

“Hai, ahli ibadah,” seru setan yang telah berubah rupa. “Aku diutus oleh Allah Ta’ala,” lanjutnya mulai berbohong. “Semua ibadahmu telah diterima,” terangnya sampaikan puncak kebohongan, “maka, setelah ini, kau tak perlu lagi menjalankan ibadah.”

“Alhamdulillah,” jawab laki-laki ahli ibadah yang tak berilmu ini. Parahnya lagi, selepas kejadian itu, lelaki ini benar-benar tak lagi melakukan ibadah. Sebab, ia merasa diampuni sebagaimana disampaikan oleh ‘utusan’ Tuhan tersebut.

Tunai menggoda laki-laki pertama, setan pun mendatangi lelaki kedua. Dengan semangat membara, setan bergegas. Ia telah menyusun aneka kalimat rayuan dan godaan agar si lelaki yang suka mabuk tersebut semakin terjerumus dalam kesesatannya. Meskipun, ia memiliki ilmu.

“Hai,” seru setan seketika setelah bertemu dengan lelaki kedua, “semua dosamu telah diampuni.”

- Advertisement -

Namun, belum sempat melontarkan kalimat kedua, laki-laki tersebut langsung menghardik, “Kurang ajar kau!” seraya memenggal leher setan berbentuk manusia tersebut. “Kau kira, aku tak mengenal Tuhan?!” hardiknya sesaat setelah ‘jasad’ setan terkapar di bumi.

Demikianlah keadaan orang-orang yang berilmu. Ia mengetahui hakikat. Meskipun, dalam hikayat yang dikisahkan oleh R. Abdullah bin Nuh dalam menjelaskan Mendaki Tanjakan Ilmu dan Tobat karangan Imam al-Ghazali ini terdapat ketidaksempurnaan. Pasalnya, jika lelaki kedua benar-benar berilmu, maka ia akan meninggalkan kebiasaan buruknya dan fokus mengamalkan ilmu yang dimiliki untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Maka yang paling baik di antara keduanya adalah ahli ibadah yang berilmu. Itulah sebaik-baik ilmu yang memberikan manfaat, dan sebaik-baik ibadah sebagai salah satu pengamalan atas ilmu yang dimiliki. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -