Gagal Maksiat, Dosa Didapat

Imam Ibnu Katsir Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim tentang tiga balasan bagi orang yang meninggalkan perbuatan maksiat atau kejahatan. Di antara tiga balasan ini, ada orang yang saldo dosanya bertambah meski dia belum melakukan perbuatan buruk.

Tinggalkan Dosa, Dapat Pahala

- Advertisement -

Balasan ini diberikan kepada orang yang meninggalkan perbuatan sia-sia, maksiat, dan kejahatan karena Allah Ta’ala. Bagi mereka pahala yang tunai dan tiada batasnya. Apalagi ketika kisah mereka banyak diriwayatkan dan banyak orang yang terhindar dari dosa setelah membaca kisah tersebut.

Maka pahalanya abadi, saldo kebaikannya akan senantiasa bertambah.

Termasuk dalam hal ini adalah Nabi Yusuf ‘Alaihis Salam. Beliau menghindar dari zina karena takut kepada Allah Ta’ala. Begitu pun dengan seorang alim yang urung berzina, padahal tubuhnya sudah berada di atas badan wanita yang hendak dizinai.

Lupa, Kosong-kosong

Golongan ini termasuk yang tidak mendapatkan pahala atau dosa. “Dalam keadaan ini,” tulis Imam Ibnu Katsir, “dia tidak mendapatkan kebaikan dan tidak pula memperoleh dosa. Sebab dia tidak berniat baik dan tidak pula melakukan kejahatan.”

Niatnya melakukan dosa. Dia juga sudah mengerahkan kemampuan yang membuat dosanya terwujud. Namun karena satu dan lain sebab, dia lupa melakukannya, padahal di dalam dirinya masih terbetik niat untuk mengerjakannya.

Gagal Maksiat, Dosa Didapat

Bisa dibilang, inilah golongan yang paling merugi. Tidak jadi melakukan keburukan, tapi sudah berhak mendapatkan dosa. Imam Ibnu Katsir menyimpulkan hukum ini dari hadits tentang dua orang yang saling bunuh. Yang membunuh atau terbunuh sama-sama masuk neraka. Sebab yang terbunuh sudah melakukan upaya untuk membunuh, tapi gagal melakukannya dan justru terbunuh lebih dahulu.

- Advertisement -

Mereka mendapatkan dosa karena usaha yang dilakukan untuk mewujudkan niat jahatnya. Dia mengerahkan pikiran untuk membuat strategi dan seluruh anggota badan untuk mewujudkan apa yang menjadi niat buruknya itu.

“Mereka meninggalkan kejahatan karena lemah dan malas setelah berusaha melakukan unsur-unsur yang menyebabkan terjadinya kejahatan dan membiasakan diri dalam hal-hal yang mendekatkannya pada kejahatan.” terang Imam Ibnu Katsir Rahimahullahu Ta’ala.

Ya Allah, kuatkan kami dalam taat dan jauhkan kami dari maksiat. Aamiin.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

*Terjemah Tafsir Ibnu Katsir bisa dipesan di 085691479667 (WA/Line/Telegram/Phone)

- Advertisement -

Terbaru

Inilah Ayat yang Membuat Umar Masuk Islam

Kemarahan Umar bin Khattab memuncak. Ia merasa agama baru telah membuat ajaran nenek moyangnya terinjak-injak. Maka ia ambil pedang, lalu pergi untuk mengakhiri apa...

Jenazah Utuh Thalhah bin Ubaidillah Saat Makamnya Dipindah

Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu gugur sebagai syahid pada Perang Jamal. 30 tahun kemudian, saat kaum muslimin memindahkan makamnya, mereka menyaksikan sebuah keajaiban. Jenazah...

Kisah Umar Marah kepada Abu Bakar Melebihi Marahnya kepada Utsman

Umar bin Khattab pernah marah kepada beberapa sahabat, terutama Abu Bakar Ash Shiddiq. Saat itu Umar sedang berduka karena menantunya meninggal dunia sehingga putrinya...

Penasaran Hadits Ini, Istri-Istri Nabi Mengukur Panjang Tangannya

Para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mencintai beliau. Tak hanya ingin menemani beliau di dunia, para ummul mukminin juga ingin segera menyusul Rasulullah...