Dunia Bagaikan Madu

“Dunia,” demikian menurut penjelasan Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah dalam ‘Uddatush Shabirin, “bagaikan wadah yang penuh dengan madu.” Amat menarik. Pasalnya, dunia sering diibaratkan dengan sesuatu yang kotor dan hina. Namun, murid terbaik Imam Ibnu Taimiyah ini mengibaratkannya dengan madu.

- Advertisement -

Meskipun, dalam perumpamaan-perumpamaan sebelum dan setelahnya, Imam Ibnul Qayyim juga menerangkan perumpamaan dunia yang merujuk dari banyak hadits-hadits shahih Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sedangkan pemilihan madu sebagai ungkapan, setidaknya adalah sebuah penegasan bahwa dunia pun memiliki banyak manfaat sebagaimana manfaat madu bagi kehidupan manusia.

Bukankah seorang hamba yang selamat di akhirat harus memanfaatkan dunia dengan sebaik-baiknya melalui kesibukan beramal shalih di sepanjang hidupnya? Bukankah para Nabi dan Rasul juga dihidupkan di dunia terlebih dahulu untuk berdakwah mengajak kepada tauhid sebelum merasakan nikmat surga yang tiada tara?

Karenanya pula, Allah Ta’ala juga memerintahkan hamba-hamba-Nya agar tidak melupakan jatah dunianya selain kesibukannya beramal untuk akhirat yang abadi.

Wadah yang penuh dengan madu ini, lanjut Ibnul Qayyim, “Diketahui oleh lalat. Kemudian mereka bergegas mendatangi wadah tersebut dan mengambil posisi masing-masing.”

Meski memilih madu sebagai perumpaan dunia, Imam Ibnul Qayyim justru mengumpamakan manusia dengan lalat, bukan lebah. Padahal, yang mengonsumsi madu adalah lebah dan serangga-serangga lain yang sejenis. Pasalnya, manusia memang banyak salah, bahkan ada yang jauh lebih hina dari binatang ternak jika hanya mengandalkan hawa nafsunya.

Nah, lalat-lalat tersebut pun mengerubungi wadah berisi madu. Di antara mereka ada yang bertengger di pinggir wadah sembari mengambil posisi siaga. Mereka hanya mengambil madu seperlunya, dan bersiap terbang jika ada bahaya yang datang mengancamnya. Lalat inilah yang menjadi perumpaan bagi mereka yang menyadari kehinaan dunia dan memanfaatkan sebesar-besarnya untuk keperluan akhirat yang abadi.

- Advertisement -

Sedangkan lalat-lalat yang lain memilih berada di tengah wadah seraya menginjakkan kaki-kaki mungilnya di atas madu. Alhasil, mereka pun tenggelam sebelum sempat menikmati manisnya madu. Dan ketika bahaya datang menghampirinya, mereka tak kuasa mengindar untuk menyelamatkan diri.

Inilah orang-orang yang gila dunia. Sepanjang hidupnya hanya untuk kerja dan amalan-amalan duniawi lainnya. Mereka tidak pernah memikirkan akhirat, apalagi beramal untuk kehidupan abadi selepas kematiannya kelak.

Maka jadilah lalat yang tahu diri, agar tidak tenggelam dalam madu dunia dan terdampak bahaya-bahayanya. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -