Dakwah Tiada Daya karena Dainya Miskin

Ustadz Oemar Mita mengisahkan kejadian yang dialami oleh salah seorang jamaahnya. Sang jamaah membawa orang tuanya ke seorang dokter. Memeriksakan kesehatan sang ayah. Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, sang ayah dinyatakan sehat. Tidak ada bagian tubuhnya yang sakit.

- Advertisement -

Namun, berdasarkan keluhan yang dirasakan oleh sang ayah, bagian dadanya sakit. Nyeri. Perih. Benar-benar mengganggu. Lantaran berkali-kali diperiksa dan hasilnya negatif, sang jamaah pun pulang dengan tangan hampa bersama ayahnya.

Sesampainya di rumah, dan bertemu dengan kedua kakaknya, ketiga saudara kandung ini melakukan musyawarah serius terkait kesehatan ayahnya. Hingga didapatilah kesimpulan, sang ayah harus dibawa ke ‘orang pintar’ alias dukun.

Si bungsu tentu memberontak. Dia bersikeras. Menolah usul kedua kakaknya. Setelah mengetahui hukum mendatangi dukun, dia benar-benar tak bisa menerima usul kedua kakaknya.

Dalam benaknya, betapa sang ayah akan mengalami hidup yang teramat menyakitkan. Selain sakit fisik, ia juga akan dihukumi syirik dengan ancaman tidak mendapatkan ampunan dari Allah Ta’ala.

“Sudahlah,” tutur kakak tertua, “kamu gak usah banyak protes. Selama ini kamu kan jarang bahkan gak pernah membantu finansial untuk bapak. Hanya membantu mendoakan bapak.”

“Nah, sekarang, kamu cukup mendoakan agar bapak mendapatkan kesembuhan. Agar berobatnya lancar.” pungkas kakak kedua. Mengakhiri diskusi.

- Advertisement -

Seperti inilah realitas mengajarkan kepada kita. Meski dalam kisah ini ada hikmah berupa kesedihan orang-orang yang mengetahui terkait hukum sebuah perbuatan dan sikap meremehkan orang yang tidak mengetahui, tapi ada satu hal penting tentang pengaruh kekuatan finansial dalam menopang kekuatan dakwah.

Si fulan sebagai jamaah pengajian hanya bisa merasa sedih dan bersabar karena dia mengetahui keburukan perbuatan syirik berupa mendatangi dukun. Akan tetapi, sedih tidak cukup. Ada hal yang semestinya bisa diupayakan jika seorang dai benar-benar berdaya secara finansial.

Ketika para dai memahami urgensi kekayaan dan benar-benar bisa mengupayakannya, maka dia tidak akan diremehkan sebagaimana sang dai dalam kisah ini. Minimal, dia akan dihargai pendapatnya jika hujjahnya disampaikan dengan kekuatan yang terpancar di balik perkataannya.

Meskipun memang, mengupayakan kekayaan tidak selalu sejalan dengan pencapaian kekayaan. Sebab miskin yang dijalani dengan sabar pasti melahirkan kebaikan yang amat banyak.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

4 Keutamaan Wudhu yang Mencengangkan

Karena sering dilakukan, kadang wudhu dianggap biasa saja dan disepelekan. Padahal, keutamaan wudhu itu luar biasa. Wudhu adalah cara...

Nasehat Rasulullah Ini Mak Jleb Buat Kita di Bulan Syawal

“Ayo, mana yang lain?” Admin ODOJ mengingatkan di grup. Banyak yang belum tuntas tilawah harian. Pertengahan Syawal telah lewat, namun setoran juz...

Kisah Imam Ahmad dan Dahsyatnya Istighfar Penjual Roti

Sebelum meninggal, Imam Ahmad rahimahullah menceritakan bahwa suatu waktu dalam hidupnya, ketika usianya mulai tua, tiba-tiba muncul keinginan untuk mengunjungi satu kota...

Habis Idul Fitri Langsung Puasa Syawal, Ini Keutamaannya

Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriyah jatuh pada hari Ahad, 24 Mei 2020. Senin, 2 Syawal 1441 bertepatan dengan 25 Mei 2020,...