Cara Melemahkan Hawa Nafsu menurut Ibnul Qayyim al-Jauziyah (2)

Lanjutan dari Cara Melemahkan Hawa Nafsu menurut Ibnul Qayyim al-Jauziyah

- Advertisement -

Dalam upaya melemahkan hawa nafsu, dua hal yang harus dilakukan secara seimbang adalah memperkaya ilmu dan sungguh-sungguh dalam menjalankannya. Jika kedua hal ini tidak dilakukan secara seimbang dan berkelanjutan, maka upaya tersebut akan sia-sia.

Nafsu akan berdampak buruk jika tidak dikendalikan. Ia bisa lebih liar dari binatang buas; yang merusak, hanya mengandalkan keinginan, dan mengabaikan apa pun demi menggapai apa yang diinginkannya.

Aspek ilmu yang dibutuhkan dalam upaya melemahkan hawa nafsu meliputi pengetahuan tentang manfaat jika nafsu disalurkan kepada hal-hal yang dibolehkan dan dampak buruk jika nafsu dibiarkan menuruti keinginan jahatnya. Sedangkan amal dalam upaya ini, adalah sungguh-sungguh untuk mengejawantahkan setiap ilmu yang dipahami.

Cara melemahkan hawa nafsu sebagaimana dinasihatkan oleh Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah terdiri dari lima kiat. Pertama, memperhatikan makanan penguat nafsu. Kedua, menghindari pemicu nafsu berupa mengumbar pandangan. Ketiga, menghibur diri dengan hal mubah sesuai kebutuhan.

Lantas, apakah kiat keempat dan kelima?

Renungi Kerusakan Karena Menuruti Nafsu

Bayangkan jika manusia mengikuti perilaku binatang yang hanya mengandalkan nafsu. Maka dalam kehidupan sehari-hari, binatang hanya makan, kawin, tidur, begitu seterusnya. Yang mereka lakukan tidak jauh dari perut dan alat kelamin. Mereka juga melakukan itu di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja.

- Advertisement -

Maka alangkah hinanya manusia yang senantiasa perturutkan hawa nafsunya. Mereka hina sebab tak miliki malu dan mengerjakan sesuatu sesuka nafsunya. Parahnya, jika hewan yang kawin-misalnya-tidak pernah merekam dan menyebarkannya, maka manusia yang laknat justru melakukan itu dengan bangga dan menjadi sumber penghasilan.

Ketahui Hakikat Kegemaran Nafsu

Apakah kita sebagai manusia rela disamakan dengan binatang bahkan yang lebih rendah dari itu? Apakah kita rela disamakan dengan sosok yang memakan bangkai, padahal binatang-binatang tertentu bahkan tak pernah mengonsumsi bangkai?

Itulah hakikat buruknya nafsu. Sebab ia identik dengan keburukan, menjijikan, kotor, nista, laknat, tercela. Tak ada kemuliaan bagi siapa yang memperturutkannya.

Maka pikirkanlah, jika ada seorang yang cantik rupanya, tapi tubuhnya dijajakan dengan murah kepada siapa saja yang mau. Bukankah amat menjijikan? Bahkan hewan-hewan yang tak berakal itu, pernahkah anda menjumpainya menjajakan dirinya kepada sesama hewan lalu minta bayaran?

Namun manusia yang lemah jiwa dan tertutup hatinya, bahkan memperdagangkan aurat mereka dengan harga yang sangat murah. [Pirman]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -