Batalkan Undangan Menteri Demi Ibu

ilustrasi @lintasme
ilustrasi @lintasme

Surga seorang anak ada di telapak kaki ibu. Doa ibu kepada anaknya diibaratkan doa Nabi kepada umatnya. Ucapan, harapan dan doanya adalah jaminan keterkabulan. Sebaliknya, ketika ibu tidak ridha, maka kesulitan da kesengsaraan hidup adalah jaminan yang mustahil meleset.

- Advertisement -

Ustadz Ahmad al-Habsyi menuturkan pengalamannya di dalam bukunya Mukjizat Orangtua Sempurnakan Suksesmu. Dalam pembukaan buku itu, beliau menuturkan kisah nyata yang menjadi bukti akan Kemahakuasaan dan pahala yang akan Allah Swt berikan kepada siapa saja yang berbakti kepada orangtuanya.

Kisahnya, beliau diundang untuk memberi ceramah di kantor seorang Menteri. Sebab belum ada undangan di hari tersebut, Ustadz mengiyakan. Sekitar beberapa hari sebelum ceramah, Menteri itu amat intens menghubungi Ustadz untuk memastikan, khawatir jika yang bersangkutan lupa jadwal.

Tak berselang lama selepas itu, tepat menjelang hari H undngan ceramah, sang Ustadz menelepon ibunya di kampung halaman, Palembang. Terdengar dari suara telepon, suara ibunya menunjukkan gejala sakit. Sayangnya, ketika ditanya, sang Ibu mengelak.

Tidak puas, Ustadz al-Habsy pun menghubungi Kakaknya. Katanya, “Kak, Ibu sakit ya?” Maka didapatilah informasi bahwa sang Ibu sudah beberapa hari tak enak badan. Ketika seluruh anaknya membujuk, Ibunya tak menggubris. Pun, ketika anak-anak yang membujuk sampai merengek dan meneteskan air mata. Jelas sang Kakak, “Tolong pulang. Hanya kamu yang bisa membujuk Ibu.”

Tanpa pikir panjang, sang Ustadz langsung membeli tiket untuk mudik ke Pelembang. Sesampainya di sana, disampaikanlah kepada sang Ibu bahwa dirinya telah membatalkan undangan ceramah dari seorang Menteri demi membujuk ibunya agar mau berobat.

Mendengar penuturan sang anak, Ibu yang lembut hatinya pun mengikuti sarannya. Keduanya beranjak ke dokter. Alhamdulillah, Ibunya sembuh setelah diperiksa.

- Advertisement -

Sepulangnya dari Palembang, sang Ustadz menerima laporan tak mengenakkan dari stafnya.  Pasalnya, ajudan Menteri mengancam akan memboikot ceramah Ustadz. Sebagai bentuk konfirmasi, beliau pun menelepon dan mengisahkan detail peristiwanya.

“Bang,” ungkap sang Ustadz melalui telepon, “ada dua panggilan yang tak bisa ditunda.” Lanjut beliau, “Yang pertama adalah panggilan Allah Swt berupa Haji dan Umrah. Yang kedua adalah panggilan orangtua.”

“Ketika saya tidak menghadiri undangan Abang, maka di kantor Abang tetap ada ceramah, kan?” tanya sang Ustadz. Lanjutnya, “Tapi, jika kemarin saya tidak langsung mendatangi Ibu, kemudian ternyata beliau mati, apakah ada yang bisa menggantikan kesedihan saya?”

Berselang hari, sang Menteri berkunjung ke rumah Ustadz al-Habsyi. Ia menyampaikan permintaan maaf atas kelakuaan ajudannya karena khilaf. Ketika hendak pulang, Menteri itu menyerahkan amplop kepada sang Ustadz. Dengan mengerutkan dahi, sang Ustadz bertanya, “Lho? Ini apa-apaan, Bang?” Jawab Menteri, “Memang, kau tidak hadir untuk berceramah di kantorku. Tapi yang kau sampaikan lewat telepon, amat menyentuh hati dan perasaanku. Maka terimalah ini sebagai wujud terimakasihku atas nasehatmu.”

Sepulangnya sang Manteri, dibukalah amplop terebut. Ternyata, isinya Dolar Singapura! [pirman]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -