Andai Kalian Membeli Kertas untuk Malaikat Pencatat Amal!

Dalam Islam yang mulia, tiada persoalan yang dipandang kecil atau remeh. Islam mengatur semuanya dengan baik dengan ragam kaidah yang berlaku dan tak bisa dianggap sebelah mata. Bahkan, sesuatu yang kerap disepelekan, senyatanya menjadi hal penting dan amat berpengaruh terhadap keselamatan seorang hamba di dunia dan akhirat.

- Advertisement -

Lisan, misalnya.

Mula-mula, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam menjamin keselamatan seorang hamba jika dia mampu menjaga apa yang terdapat di antara dua paha dan dua rahangnya. Ialah kemaluan dan lisan. Jika dua hal itu terjaga dari semua keharaman dan dimanfaatkan dalam rangka iman serta taqwa kepada Allah Ta’ala, surga dijamin oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam untuk kaum Muslimin yang mampu melakukannya.

Sebaliknya, andai dua anggota tubuh manusia itu disibukkan dalam sia-sia, maksiat, dan dosa, neraka sudah menunggu dengan siksa dan nyala apinya. Bahkan, ada begitu banyak kasus siksa yang disegerakan manakala seorang hamba tak mampu menjaga keduanya.

Khusus soal lisan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam pernah berkata tegas kepada salah satu sahabat mulianya. Beliau menyebutkan, ada begitu banyak orang yang tergelincir ke dalam neraka lantaran tak mampu menjaga apa yang terlontar dari lisannya.

Parahnya, lontaran lisan dianggap remeh oleh umat akhir zaman ini, padahal hal itu menjadi sebab baginya hingga dimasukkan ke dalam siksa neraka.

Senada dengan nasihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam yang mulia ini, ada nasihat amat indah nan mengguncang jiwa orang-orang yang beriman. Ialah perkataan agung yang disampaikan oleh Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq dan dikutip oleh Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah saat menjelaskan Risalah al-Mustarsyidin tulisan Imam al-Harits al-Muhassibi.

- Advertisement -

“Seandainya kalian harus membeli kertas untuk para malaikat pencatat, tentulah kalian lebih memilih diam daripada banyak bicara.”

Sebuah kalimat yang indah. Merupakan nasihat penggugah jiwa. Amat ringkas, padat, dan sangat jelas maknanya.

Sebagian kita amat mudah mengatakan dan mengungkapkan apa yang ada di dalam benaknya, tanpa memperhatikan manfaatnya bagi diri dan orang lain. Semua yang diketahui disampaikan, semua yang didengar dituliskan, semua yang didapat segera disebarkan.

Mereka lupa, semua itu akan diabadikan oleh malaikat pencatat amal. Dan bisa jadi, kebodohan sebagian kita yang mengucapkan banyak hal tanpa koreksi terjadi lantaran merasa tak membeli kertas untuk malaikat pencatat amal hingga bebas mengatakan apa pun, toh tidak mengurangi harta dan aset yang dimiliki.

Na’udzubillahi min dzalik. Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Nasehat Rasulullah Ini Mak Jleb Buat Kita di Bulan Syawal

“Ayo, mana yang lain?” Admin ODOJ mengingatkan di grup. Banyak yang belum tuntas tilawah harian. Pertengahan Syawal telah lewat, namun setoran juz...

Kisah Imam Ahmad dan Dahsyatnya Istighfar Penjual Roti

Sebelum meninggal, Imam Ahmad rahimahullah menceritakan bahwa suatu waktu dalam hidupnya, ketika usianya mulai tua, tiba-tiba muncul keinginan untuk mengunjungi satu kota...

Habis Idul Fitri Langsung Puasa Syawal, Ini Keutamaannya

Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriyah jatuh pada hari Ahad, 24 Mei 2020. Senin, 2 Syawal 1441 bertepatan dengan 25 Mei 2020,...

Lailatul Qadar Jatuh pada Malam 27 Ramadhan? Ini Dalil dan Tandanya

Lailatul Qadar jatuh pada malam berapa? Tak ada seorang pun yang bisa memastikannya. Namun ada dalil hadits yang menunjukkan secara umum, kemudian...