Anda Tengah Dililit Masalah? Solusi Ini Dijamin Mujarab!

Hidup adalah kumpulan masalah. Tidak ada satu insan pun yang bebas dari persoalan. Baik permasalahan sebagai individu, dengan anggota keluarga yang lain, terkait masyarakat sekitar, dan lingkup lain yang lebih besar.

- Advertisement -

Masalah-masalah itu pun terbentang dari yang paling remeh, sederhana, agak rumit, hingga yang paling lengkap, melilit, bahkan terasa amat menyesakkan dada. Di luar besar atau kecilnya masalah, sejatinya kualitas diri amatlah berpengaruh.

Latar belakang kehidupan juga memiliki andil hingga sebuah masalah dirasa sebagai sesuatu yang besar, kecil, atau remeh. Termasuk kadar; masalah kecil yang dibiarkan menumpuk dalam masa yang lama amat berpeluang menjadi masalah besar dan rumit. Sedangkan persoalan besar yang segera diselesaikan dengan tuntas bisa jadi tidak berdampak signifikan, justru terkenang sebagai sebuah kebaikan lantaran ingatan positif saat upaya-upaya solutif dikerjakan sebagai jalan keluar.

Jika saat ini Anda tengah dililit masalah. Andai bingung menggelayut lantaran persoalan yang tak kunjung usai dalam berbagai bidang kehidupan yang Anda jalani. Ketika seluruh faktor yang Anda kira sebagai solusi justru memperburuk persoalan dan situasi, bisajadi ada satu jalan keluar yang belum Anda tempuh.

Tatkala Imam Abu Hanifah Rahimahullahu Ta’ala dililit banyak masalah, beliau berujar kepada murid-muridnya, “Hal ini tidak lain akibat dosa yang aku perbuat!”

Sebagaimana dituturkan oleh Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah ketika mensyarah Risalah al-Mustarsyidin, “Dia (Imam Abu Hanifah) pun beristighfar, dan mungkin mendirikan shalat, lantas masalah itu pun teratasi.”

Beliau juga menyampaikan, “Aku berharap agar taubatku diterima.”

- Advertisement -

Saat mendengarkan riwayat ini, Imam Fudhail bin Iyadh Rahimahullahu Ta’ala menangis tersedu-sedu. Deras. Tak terbendung. Di tengah isaknya, beliau menuturkan, “Hal itu (selesainya masalah Imam Abu Hanifah setelah beristighfar) karena dosanya sangat sedikit. Sedangkan orang lain jangan berharap bisa seperti itu.”

Kita harus jujur melihat ke dalam nurani yang paling dalam. Ketulusan untuk menginsafi salah, lalu bergegas memohon ampun kepada Allah Ta’ala.

Bukan, bukan bermakna bahwa mereka yang bebas dari masalah adalah yang paling sedikit dosanya. Tapi lebih pada membangun kesadaran, agar kita senantiasa merasa berdosa sehingga bergegas dalam meminta ampun dan bertaubat kepada Allah Ta’ala.

Jangan pula berpikir bahwa mereka yang tak beriman tidak pernah diberi masalah. Sebab siksa menunggu jika mereka mati sebelum bertaubat. Lagi pula, perampok mustahil mencuri di sebuah rumah kosong, rusak, dan tidak ada satu pun aset di dalamnya.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -