Allah Pun Takjub dengan Amal Hamba-Nya Ini

lustrasi @pisaijo
lustrasi @pisaijo

Di Kota Madinah yang penuh keberkahan itu datanglah seorang tamu kepada Rasulullah Saw yang mulia. Rupanya, sang tamu belum mengonsumsi apa pun. Maka, mereka meminta makanan kepada sang Nabi. Beliau yang terkenal dengan akhlaknya dalam memuliakan tamu pun bertanya kepada salah seorang istrinya, “Apakah ada makanan untuk tamu kita?”

- Advertisement -

Rupanya, istri yang pertama ditanya tak memiliki apa pun untuk dihidangkan. Maka, Nabi Saw bertanya kepada istri beliau yang lain. Ternyata nihil, hasilnya sama. Keluarga Rabbani itu tak memiliki stok makanan untuk menjamu tamunya.

Maka sang Nabi pun menuju masjid dan berkata kepada sahabat-sahabatnya. Beliau menginformasikan adanya tamu yang butuh jamuan kemudian menawarkan siapakah yang mau menjamu mereka.

Bersemangat menyambut tawaran sang Nabi untuk menjamu tamu, ada seorang sahabat yang ajukan dirinya. Ia menyatakan kesanggupannya. Lantas, pulanglah ia ke rumah untuk bertanya kepada sang istri. Sang istri menjawab, “Ada makanan, Suamiku. Tapi, itu jatah untuk anak-anak kita.”

Sang sahabat pun memutar otaknya. Mencari cara bagaimana supaya bisa tetap menjamu tamu-tamu Rasulullah Saw. Berkesempatan menjamu tamu Nabi adalah keberkahan yang berlimpah.

Maka disepakatilah dengan sang istri. Anak-anaknya harus ditidurkan terlebih dahulu. Setelah nyenyak, barulah mereka persilakan tamunya untuk menikmati sajian yang telah disediakan.

Sebagai sebuah strategi juga, jamuan makan yang diberikan di malam hari itu, oleh sahabat tersebut disiasati dengan mematikan lampu. Jadi, suami istri itu tetap menemani makan meski hanya berpura-pura makan sebab jumlah makanannya tidak mencukupi.

- Advertisement -

Maka malam itu, puaslah sang tamu dengan jamuan makan seorang sahabat Anshar ini. Padahal, ia, istri dan anak-anaknya harus menahan lapar demi memuliakan tamu. Sahabat Anshar ini menyadari bahwa memuliakan tamu adalah bagian dari ajaran Islam yang mulia dan menjadi salah satu parameter keimanan seorang hamba kepada Allah Ta’ala dan Hari Akhir.

Keesokan harinya, Nabi menghampiri sahabat tersebut sambil tersenyum. Beliau berkata, “Allah Ta’ala pun takjub karena perbuatan kalian berdua.”

Duhai bahagianya, amal sang sahabat langsung mendapatkan penilaian Allah Ta’ala melalui lisan Nabi-Nya yang mulia. [Pirman]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -