5 Tingkatan Pelanggan Maksiat

Di dalam Shaidul Khatir, Imam Ibnul Jauzi Rahimahullahu Ta’ala membagi pelaku maksiat ke dalam lima golongan. Pembagian ini bukan untuk meremehkan perbuatan maksiat, tapi untuk memetakan kualitas diri dan objek dakwah. Agar kita tidak menilai dengan cara justifikasi.

- Advertisement -

Mari cermati lima tingkatan ini. Semoga kita tidak ada di bagian mana pun dari lima tingkatan pelaku maksiat ini.

Bisa Dimaklumi

Ada orang yang melakukan maksiat, tapi ia tidak mengetahui bahwa tindakannya termasuk perbuatan maksiat. Orang ini dimaklumi ketidaktahuannya. Tapi ia wajib mencari ilmu agar mengetahui yang halal dan haram.

Salah Sangka

Yang dimasukkan dalam kelompok ini adalah mereka yang melakukan keharaman, tapi menyangkanya sebagai tindakan makruh. Imam Ibnul Jauzi menyebutkan bahwa orang di golongan ini hampir mirip dengan golongan pertama, yang bisa dimaklumi. Tapi ia wajib belajar terkait hukum agama Islam.

Salah Takwil

Kelompok ini dinisbatkan kepada kesalahan yang dikerjakan oleh Nabi Adam ‘Alaihis salam. Ada yang berpendapat bahwa beliau dilarang mengonsumsi buah dari pohon tertentu, tapi beliau memakan pohon lain yang sama jenisnya.

Dikalahkan oleh Syahwat

Orang-orang di golongan ini mengetahui tingkat keharaman dari maksiat yang dia kerjakan. Hanya saja, syahwat sangat kuat. Ia tergoda dan terkalahkan oleh syahwatnya. Mereka pun terjerumus ke dalam maksiat dan dosa.

“Seorang pencuri tidak ingat hukuman potong tangan. Ia tidak ingat sama sekali hingga melakukan pencurian. Dan pelaku zina tidak mengingat malu yang akan menimpanya serta hukuman yang menantinya, sebab apa yang dia nikmati membuatnya lupa dengan konsekuensi yang bakal diterima.” tutur Imam Ibnul Jauzi.

Sengaja Melanggar

- Advertisement -

Ini merupakan tingkatan yang paling banyak dosanya. Mereka tahu, tapi sengaja melanggar. Mereka menggunakan pengetahuannya untuk mensiasati hingga niat jahatnya terlaksana.

Ia mengetahui bahwa mencuri termasuk dosa dan berhak mendapatkan hukuman potongan tangan, tapi tetap melakukan bahkan menjadikannya sebagai kebiasaan di dalam hidupnya.

Mereka juga mengetahui bahwa zina termasuk dosa besar yang pelakunya berhak didera seratus kali atau dirajam dan berhak mendapatkan neraka jika meninggal sebelum bertaubat, tapi mereka bersikukuh melakukannya bahkan menjadikan zina sebagai sebuah kebiasaan di dalam hidupnya. Na’udzubillahi mn dzalik.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

*Beli Shaidul Khatir tulisan Imam Ibnul Juzi di 085691548528

- Advertisement -

Terbaru

Mengapa Jin Tak Berani Mengganggu Orang yang Membaca Ayat Kursi?

Mengapa jin tak berani mengganggu orang yang membaca ayat kursi? Berikut ini penjelasan ilmiah dan logisnya. Jin Sendiri Mengaku...

Rasulullah Tak Mengerjakan, Mengapa Puasa Tasua Jadi Sunnah?

Dua di antara amalan bulan Muharram adalah puasa tasua dan puasa asyura. Rasulullah biasa mengerjakan puasa asyura bahkan sangat mengutamakan. Namun puasa...

Kisah Ghibah di Zaman Nabi, Ketika Benar Tercium Bau Bangkai

Saat membaca Surat Al Hujurat ayat 12, kita memahami bahwa ghibah itu ibarat memakan daging saudara sendiri yang telah mati. Namun tahukah...

Sejarah Bulan Muharram dan Peristiwa Penting yang Terjadi di Dalamnya

Bulan Muharram (المحرم) adalah bulan pertama dalam penanggalan hijriyah. Bagaimana sejarah bulan muharram dan peristiwa penting apa saja yang terjadi di dalamnya?