4 Nasihat Agung Agar Mampu Tundukkan Pandangan

0

Jangan anggap remeh soalan pandangan mata. Sebab Allah Ta’ala memasukkannya ke dalam perkara besar hingga berfirman tentangnya di dalam al-Qur’an al-Karim. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dan generasi penerusnya juga memasukkan hal ini dalam masalah besar yang tak seharusnya diremehkan.

Bagi Anda yang sukar menundukkan pandangan, bacalah empat nasihat ini dengan hati yang tulus. Semoga melalui empat nasihat agung ini, Anda mendapatkan kekuatan untuk menundukkan pandangan.

“Pandangan adalah salah satu panah iblis. Barang siapa yang tidak memandang karena takut kepada Allah Ta’ala, niscaya Dia ‘Azza Wa Jalla menganugerahinya iman yang terasa manis di dalam hatinya.”

Ungkapan ini disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam kepada sahabat mulia Hudzaifah bin Yaman Radhiyallahu ‘anhu dan diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak.

“Siapa saja yang menundukkan pandangannya dari objek yang diharamkan, niscaya Allah Ta’ala menikahkannya dengan bidadari mana pun yang dia sukai. Dan barang siapa yang mengintip dari atas rumah orang-orang, niscaya Allah Ta’ala membangkitkannya di Hari Kiamat sebagai orang yang buta.”

Kalimat ini disampaikan oleh sahabat mulia Abu Darda al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu.

“Hai kau! Tundukkanlah pandangamu. Karena aku pernah diberi tahu, setiap orang akan ditanya tentang pandangannya yang berlebihan; juga akan diberikan pertanyaan terkait perbuatannya yang berlebihan.”

Kalimat tegas ini merupakan nasihat dan peringatan yang disampaikan oleh Daud ath-Tha’i saat melihat seseorang melayangkan pandangannya secara berlebihan.

Jika Daud ath-Tha’i melihat bagaimana kita memandang saat ini, kira-kira kalimat keras seperti apa yang dia lontarkan di wajah dan nurani kita?!

“Wahai Ali, janganlah susul pandanganmu dengan pandangan berikutnya. Karena hakmu adalah pandangan yang pertama. Sedangkan yang kedua bukanlah hakmu.”

Nasihat agung ini dismapaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam kepada sahabat mulia Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu yang merupakan sahabat, sepupu, sekaligus menantunya. Dengan derajat hasan gharib, hadits ini diriwayatkan oleh tiga imam hadits; Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Abu Dawud, dan Imam at-Tirmidzi Rahimahumullahu Ta’ala.

Sedangkan kalimat ‘adalah hakmu pandangan pertama’ dinisbatkan kepada pandangan yang tidak sengaja. Dan makna dari ‘sedangkan yang kedua bukan hakmu’ adalah pandangan kepada sesuatu yang haram, disengaja, dan diperturutkan.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

Berita sebelumyaDibenci Orang Jahiliyah, Keburukan Ini Justru Digandrungi Orang Masa Kini
Berita berikutnyaMengapa Ustadz M Arifin Ilham Tidak Sediakan Makanan Saat Dzikir Akbar di Masjidnya?