Kisah Muslimah yang Pernah Tolak Lamaran Nabi karena Enggan Tinggalkan Yahudi

0
8177
sumber gambar: ar.webmanagercenter.com

Sejarah kehidupan seseorang benar-benar misterius. Ada yang mengawalinya dengan Islam, menjalani hidup dalam iman, tapi berakhir mengenaskan dalam kekafiran. Na’udzubillahi min dzalik. Sebaliknya, ada yang hidup dalam gelimang sia-sia, dosa, dan maksiat, lalu mendapat hidayah dan mati dalam keadaan beriman kepada Allah Ta’ala.

Wanita keturunan Yahudi ini, mendapati kisah kedua. Setelah hidup dalam agama Yahudi, mengikuti keluarga dan masyarakatnya, ia sempat menolak saat ditawari Islam dan menjadi istri Rasulullah Shalllalahu ‘Alaihi wa Sallam.

Setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan kaum Muslimin menyelesaikan urusan dengan Yahudi Bani Quraizhah karena melanggar perjanjian, “Nabi tertegun melihat seorang tawanan perempuan.” Lantaran prihatin dan iba, demikian ini dituturkan oleh Dr Nizhar Abazhah dalam Bilik-Bilik Cinta Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Dipilihlah wanita itu dan ditawari untuk dibebaskan dan dijadikan istri.”

Lebih dari durian runtuh, wanita ini mendapatkan rezeki yang teramat agung. Menjadi manusia bebas setelah tertawan, dijadikan istri oleh laki-laki paling terhormat sejagad, dan dibebaskan dari Yahudi menuju Islam yang mulia.

Sayangnya, wanita itu menolak lantaran enggan meninggalkan agama Yahudi yang dipeluknya. Katanya, “Biarlah saya menjadi tawananmu saja.” Menyedihkan. Dikasih daging, malah memilih bangkai.

Sebagai bentuk kebijakan dan pesona akhlaknya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak melakukan paksaan. Padahal, sebagai pemimpin dan pihak yang menang dalam sebuah ekspedisi perang, hal itu bisa saja ditempuh. Tapi Nabi, memang amat beda dengan pemimpin mana pun. Beliau pemimpin pilihan Allah Ta’ala.

“Rasulullah sedih,” lanjut Dr Nizar Abazhah, “dan berharap suatu saat kelak, wanita itu akan menerima Islam.”

Qadarullah, doa Nabi Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam terkabul. Wanita Yahudi ini menerima Islam dengan suka rela. “Kabar ini disambut gembira oleh Nabi.” Sang wanita pun bergabung menjadi keluarga kenabian dan hidup bahagia penuh kedamaian sampai tahun kesepuluh Hijriyah.

Sepulang Haji Wada’, Ibunda Kaum Mukminin ini wafat. Dengan terhormat, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memakamkannya di kompleks pemakaman Baqi.

Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat dan ridha-Nya kepada Ummul Mukminin Raihanah yang telah memberikan pelajaran kepada kita tentang kisah hidup yang berliku, namun berakhir dalam bahagia di surga.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]