ilustrasi tenggelam (radarpena.com)

Mari menepi sejenak. Asingkan diri dari segala soalan tentang dunia yang amat sementara ini. Abaikan semua godaan dan pernak-perniknya. Merenunglah. Hitung-hitunglah dosa. Sesali. Dan berkomitmenlah untuk melakukan berbagai jenis amal shalih di sisa hidup yang Allah Ta’ala berikan.

Bayangkanlah. Kelak, kita akan dihisab atas semua amal. Dari yang paling kecil, sampai yang terbesar. Dari sesuatu yang kita anggap remeh, hingga persoalan yang amat kita sesali sebagai sebuah kesalahan besar dalam hidup.

“Hisab,” demikian disampaikan oleh Ustadz Salim A. Fillah, “adalah salah satu kengerian terdahsyat dari rangkaian peristiwa sesudah manusia dibangkitkan sebakda kiamat.”

Cobalah renungi sabda sang manusia junjungan dalam salah satu sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi,

“Ketika seorang hamba dihadapkan kepada Allah Ta’ala, maka ditunjukkanlah semua nikmat yang telah Dia karuniakan kepadanya.”

Bayangkan; semua nikmat! Bukankah amat banyak nikmat yang telah Allah Ta’ala kurniakan? Pun tentang seteguk air yang membasuh dahaga, atau yang lebih kecil dari itu. Semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya.

Ketika semuanya dibeberkan, lanjut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Diperlihatkanlah semua amal yang dia lakukan dengan anugerah dari Rabbnya itu hingga dia merasa sangat malu karenanya.”

Malu. Maknanya bisa ganda. Negatif sebab salah memanfaatkan amal. Atau malu sebab lupa mensyukuri, padahal nilainya sangat agung. “Dia malu karena banyaknya hal nista yang ditampilkan di sana.”

“Dia malu,” kata Rasulullah dalam sabdanya ini, “karena rezeki dari Yang Maha Memberi digunakan untuk mendurhakai Sang Pengarunia.”

Bukan sekadar malu. Tapi malu yang amat mencekam jiwanya. “Rasa malu sangat parah mencekam jiwanya. Sampai-sampai keringatnya mengucur deras. Di hadapan hisab itu, hamba-hamba Allah Ta’ala akan tenggelam di dalam keringatnya sendiri.”

Pungkas Rasulullah mengakhiri sabdanya ini, “Ada yang tergenang (dengan keringatnya) hingga mata kaki. Ada yang terbenam hingga lutut. Ada yang mencapai pundaknya. Dan ada yang tenggelam hingga kepala.”

Lantaran kengerian dan mencekamnya hisab ini, Sayyidina ‘Umar bin Khaththab mengatakan, “Orang yang dihisab sudah (seperti) merasakan azab.”

Duhai diri, adakah kalian tidak berpikir sehingga lupa mensyukuri atas setiap nikmat yang kelak dimintai pertanggungjawabannya? [Pirman/Kisahikmah]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here