Yang Dilakukan Ibnu Taimiyah ketika Hadapi Masalah

Ketika menghadapi masalah yang pelik, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam selalu mendirikan shalat. Termasuk yang terjadi di Perang Badar, malam hari sebelum perang berkecamuk, beliau senantiasa mendirikan shalat hingga pagi menyapa.

- Advertisement -

Orang-orang shaleh sebelum dan setelah beliau pun memiliki kekhasan yang sama ketika menghadapi sebuah persoalan. Mereka senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, baik dengan mendirikan shalat, membaca ayat suci al-Qur’an, atau berdzikir dengan kalimat-kalimat yang disunnahkan sebagai wujud ketergantungan diri kepada Allah Ta’ala. Mereka menyadari bahwa diri ini lemah, maka harus mendekatkan diri dan meminta hanya kepada Yang Mahakuat.

Maka ketika Imam Hasan al-Bashri kedatangan tamu yang menyampaikan hujan belum turun, kemiskinan yang menderanya, belum dikarunia anak, hasil panen yang terhambat, dan persoalan lainnya yang beraneka rupa, beliau hanya memberikan satu solusi kepada banyak orang dengan masalah yang tak sama itu. Kata beliau, “Perbanyaklah istighfar.”

Meminta ampun. Itulah yang dilakukan orang-orang shaleh saat mendapati sebuah persoalan hidup terkait apa pun. Meminta ampun adalah ketulusan pengakuan, bahwa diri memang banyak sekali melakukan dosa dan maksiat, dan hanya Allah Ta’ala yang bisa mengampuni semua salah dan dosa.

“Jika benakku sedang berpikir suatu masalah,” tutur Imam Ibnu Taimiyah sebagaimana dikutip Mas Udik Abdullah dalam Bagai Mengukir di Atas Air, “dan hal itu merupakan masalah yang musykil bagiku.” Maka, beliau memiliki kebiasaan khusus yang dijadikan sebagai terapi menghadapi masalah-malasah itu.

“Aku,” terangnya menuturkan, “akan beristighfar 1000 kali atau lebih atau kurang.” Beliau membaca kalimat permintaan ampun itu hingga dadanya terasa lapang dan masalah itu bisa terpecahkan.

Selalu seperti itu, di setiap tempat, “Hal itu aku lakukan di pasar, masjid, maupun di madrasah (sekolah). Semuanya tidak menghalangiku untuk berdzikir dan beristighfar hingga terpenuhi cita-citaku.”

- Advertisement -

Demikianlah orang-orang shaleh itu. Kebiasaan mereka adalah dzikir dan munajat. Mereka mendekatkan diri kepada Allah ta’ala dengan sungguh-sungguh, dalam setiap kondisi dan tempat. Mereka melakukan itu dengan senang hati, ikhlas, dan mengikuti kebiasaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan orang-orang shaleh dari kalangan sahabat dan pengikutnya.

Maka sahabat, apa pun masalahnya, istighfarlah. Astaghfirullahal ‘adhim. [Pirman]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -