Shirathal Mustaqim yang Banyak Dikhianati

Dalam sehari semalam, masing-masing kaum Muslimin minimal memohon kepada Allah Ta’ala agar ditunjuki shiratal mustaqim (jalan yang lurus) sebanyak tujuh belas kali. Setiap membaca surat al-Fatihah, kita pasti mengucapkan permohonan ini.

- Advertisement -

Jumlahnya akan semakin banyak ketika kita mendirikan banyak shalat sunnah, terbiasa mengawali kajian, dzikir, membaca al-Qur’an atau aktivitas ibadah lain yang di dalamnya terdapat bacaan surat al-Fatihah.

Datanglah seorang laki-laki kepada sahabat mulia ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu. Laki-laki itu bertanya, “Apakah yang diamksud dengan shiratal mustaqim itu?”

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam meninggalkan kita di dekatnya (sirathal mustaqim). Di ujungnya terdapat surga. Di sebelah kanan dan kirinya terdapat kuda. Di sekitar kuda terdapat beberapa orang yang memanggil siapa saja yang lewat di sana. Barang siapa yang memenuhi panggilan dan memilih kuda, maka dia akan sampai di neraka. Dan siapa saja yang memilih shiratal mustaqim, maka dia akan sampai di surga.”

Di akhir penjelasan yang dikutip oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim ini, sahabat mulia ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu membaca Firman Allah Ta’ala surat al-An’am [6] ayat 153.

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus (shiratal mustaqim), maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain). Karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.”

Dari perumpamaan yang disampaikan oleh sahabat mulia ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu ini, kita bisa memahami bahwa shiratal mustaqim bukanlah jalan lurus tanpa hambatan. Ialah jalan yang jelas tujuannya, tapi amat banyak ujian dan godaan di sepanjang jalan itu.

- Advertisement -

Kita memahami peta dan tujuan perjalanannya adalah surga. Kita juga mengetahui banyaknya bisikan yang mengajak kita agar ikut serta ke jalan lain. Para penyeru di sepanjang jalan menuju shiratal mustaqim itu, tidak lain adalah setan dan bala tentaranya yang memiliki misi menyesatkan umat manusia.

Sedangkan kuda-kuda yang tersebar di banyak jalan merupakan dunia dengan seluruh perhiasannya. Ia terlihat indah dan sangat menggiurkan sehingga banyak orang yang berhenti atau berpaling dari shiratal mustaqim karena memilih dunia.

Padahal, dunia semu belaka.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Kisah di Balik Lahirnya Buku Cinta Sehidup Sesurga

Cinta Sehidup Sesurga adalah sebuah buku inspirasi merawat cinta. Banyak kiat-kiat di dalamnya yang jika dipraktikkan dalam pernikahan, insya Allah suami istri...

Mengapa Jin Tak Berani Mengganggu Orang yang Membaca Ayat Kursi?

Mengapa jin tak berani mengganggu orang yang membaca ayat kursi? Berikut ini penjelasan ilmiah dan logisnya. Jin Sendiri Mengaku...

Rasulullah Tak Mengerjakan, Mengapa Puasa Tasua Jadi Sunnah?

Dua di antara amalan bulan Muharram adalah puasa tasua dan puasa asyura. Rasulullah biasa mengerjakan puasa asyura bahkan sangat mengutamakan. Namun puasa...

Kisah Ghibah di Zaman Nabi, Ketika Benar Tercium Bau Bangkai

Saat membaca Surat Al Hujurat ayat 12, kita memahami bahwa ghibah itu ibarat memakan daging saudara sendiri yang telah mati. Namun tahukah...