Perjuangan Mencengankan Janda Tiga Anak

Menjadi janda bukanlah pilihan wanita asal Nusa Tenggara Timur ini. Biasa dipanggil dengan Bu Pepy, wanita ini berupaya sekuat tenaga untuk mengentaskan ketiga anaknya yang kala itu baru berusia di bawah sepuluh tahun.

- Advertisement -

Tanpa bekal dan modal yang memadai, dia memulai usaha berdagang bubur dan sesekali membantu menimbang. Yang ada di dalam benaknya adalah perjuangan demi kelangsungan hidup dan pendidikan ketiga anak yang amat disayanginya itu.

Sang suami pergi tanpa meninggalkan bekal yang cukup. Ia hanya seorang penjahit, sedangkan dirinya tidak memiliki pekerjaan. “Setelah suami meninggal, saya berjualan bubur dan bantu-bantu timbang barang.” tutur Ibu Pepy sebagaimana dikutip Republika Rabu, 3 Agustus 2016.

Dengan semangat baja, Ibu Pepy mengumpulkan rupiah demi rupiah agar anak-anaknya tetap bersekolah. Ia menginginkan buah hatinya mengenyam pendidikan di luar daerah yang berasrama mengingat lingkungan tempat tinggalnya tidak kondusif.

“Saya tidak mau anak-anak rusak moralnya. Apalagi di wilayah saya, anak mudanya biasa merokok dan mabuk.” terangnya bertutur.

Setelah anak pertamanya lulus Sekolah Menengah Atas, dia mengikuti serangkaian tes masuk perguruan tinggi hingga diterima di salah satu universitas di Yogyakarta. Dasar cemerlang, dia menamatkan kuliah dalam waktu singkat dengan nilai yang mengagumkan.

Ibu Pepy sempat meminta sulungnya untuk menjadi pegawai negeri sipil. Namun sang buah hati menolak. “Jika jadi pegawai negeri sipil gajinya sedikit. Nanti tidak bisa membantu ibu.” kenang Pepy.

- Advertisement -

Si sulung pun berupaya sungguh-sungguh hingga diterima di sebuah perusahaan telekomunikasi yang berkantor di Ibu Kota.

Dipicu oleh keberhasilan anak pertamanya, anak kedua dan ketiga pun mendapatkan prestasi nan gemilang. Anak kedua mendapatkan beasiswa di universitas ternama di Kota Gudeg lalu bekerja di salah satu perusahaan besar negeri ini. Sedangkan si bungsu mengikuti jejak si sulung di universitas yang sama. Dia memilih merintis perusahaan yang bergerak dalam produksi semen, setelah menamatkan kuliahnya.

Sebagai ganjaran atas keberhasilan mendidik dan mengentaskan ketiga anaknya seorang diri ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan penghargaan kepada Ibu Pepy sebagai Orang Tua Hebat akhir Juli lalu.

Tutur Pepy mengungkapkan perasaannya, “Seketika, rasa lelah saya hilang dan saya sangat bersyukur.”

Sampai kapan pun, kebaikan akan mendapatkan balasan kebaikan. Hasil tidak akan pernah mengkhianati proses.

- Advertisement -

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -