Kisah Sayyid Quthb Membungkam Perdana Menteri

Kisah Sayyid Quthb. Meski berbadan kecil dan pendek dengan kumis khasnya, laki-laki bernama Sayyid bin Quthb Ibrahim atau masyhur dengan panggilan Sayyid Quthb ini memiliki keberanian tak terbantahkan. Keberanian Sayyid terlihat dari tulisan maupun ceramah-ceramahnya.

- Advertisement -

Pada masanya, Perdana Menteri Muhammad Mahmud menyampaikan ancaman kepada rakyat Mesir. Ia akan menggunakan cara diktator kepada siapa pun yang bersifat vokal terhadap pemerintahannya.

Atas nama kebenaran, api keberanian yang bersemayam dalam nurani Sayyid Quthb menggelegak. Keberanian itu terwujud dalam kalimat singkat yang padat makna.

“Wahai Bapak pemilik tangan besi, jika tangan besi itu Bapak cari, niscaya Bapak sudah menemukannya dalam keadaan dingin dan kaku.” tulis Sayyid dalam sebuah artikel.

Kemarahan Perdana Menteri tak terbendung setelah kalimat Sayyid itu sampai kepadanya. Melalui stafnya, ia memerintahkan agar Sayyid Quthb diundang ke istana.

Sesampainya di istana, Perdana Menteri melihat anak muda bertubuh kecil dan pendek, sama sekali tak sesuai dengan imajinasinya.

“Jadi, kamu yang menulis artikel ini?” tukas Perdana Menteri.

- Advertisement -

“Betul,” jawab Quthb, singkat.

“Kenapa tulisanmu sekeras ini?” lanjut Perdana Menteri, menginterogasi.

“Saya,” jawab Sayyid tegas, “menulis apa yang saya yakini.”

Meski awalnya jengkel, Perdana Menteri tak kuasa menyembunyikan kekagumannya kepada Sayyid. Lantaran kekaguman itu pula, Perdana Menteri batal memberikan hukuman kepada Sayyid.

“Sudahlah, Nak,” pungkas Perdana Menteri, menyerah, “Tulislah sesukamu!”

- Advertisement -

Demikianlah salah satu karakter keberanian Sayyid Quthb yang lahir di Musyah pada 9 Oktober 1906. Quthb yang bekerja di Kementerian Pendidikan Mesir selama 18 tahun lebih ini merupakan lelaki reformis yang selalu mengikuti bisikan kebenaran dari dalam hatinya.

Ia pernah belajar di Amerika selama 2 tahun, kemudian bergabung bersama organisasi pergerakan Islam Ikhwanul Muslimin dan menjadi salah satu konseptor pergerakannya. Ia produktif menulis buku. Salah satunya tafsir Fi Zhilalil Qur’an yang ia tamatkan penulisannya di balik jeruji besi.

Akhir hidupnya pun lantaran menulis buku. Ma’alim Fi Thariq-salah satu masterpiecenya-membuat rezim zhalim negerinya kebakaran jenggot, lalu Quthb dizhalimi dengan dihukum gantung setelah mengalami siksaan yang berat di penjara.

Sayyid memang telah tiada, tapi pemikiran dan ilmunya senantiasa menerangi zaman. [Kisahikmah]

Rujukan: Biografi Sayyid Quth, Dr Shalah Al-Khalidy

- Advertisement -

Terbaru

Kisah di Balik Lahirnya Buku Cinta Sehidup Sesurga

Cinta Sehidup Sesurga adalah sebuah buku inspirasi merawat cinta. Banyak kiat-kiat di dalamnya yang jika dipraktikkan dalam pernikahan, insya Allah suami istri...

Mengapa Jin Tak Berani Mengganggu Orang yang Membaca Ayat Kursi?

Mengapa jin tak berani mengganggu orang yang membaca ayat kursi? Berikut ini penjelasan ilmiah dan logisnya. Jin Sendiri Mengaku...

Rasulullah Tak Mengerjakan, Mengapa Puasa Tasua Jadi Sunnah?

Dua di antara amalan bulan Muharram adalah puasa tasua dan puasa asyura. Rasulullah biasa mengerjakan puasa asyura bahkan sangat mengutamakan. Namun puasa...

Kisah Ghibah di Zaman Nabi, Ketika Benar Tercium Bau Bangkai

Saat membaca Surat Al Hujurat ayat 12, kita memahami bahwa ghibah itu ibarat memakan daging saudara sendiri yang telah mati. Namun tahukah...