Kisah Keajaiban Sabar dan Shalat

Mohonlah pertolongan kepada Allah Ta’ala dengan perantara sabar dan shalat. Meskipun, berat menjalankannya, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.

- Advertisement -

Ummu Mujahid, sebut saja demikian, memiliki satu orang anak dan tinggal bersama ayahnya yang sudah berusia senja. Sementara suaminya lama pergi, entah ke mana, tak diketahui keberadaannya hingga saat itu. Persis saja, ia menjadi tulang punggung dengan bekerja apa saja-selama halal-demi mencukupi kebutuhan hidup diri, anak, dan ayahnya.

Suatu hari, Allah Ta’ala mengujinya. Si anak sakit. Badannya amat panas dan lemas. Sementara itu, di rumah nan sederhana di pinggiran Negeri Piramida itu sudah berhari-hari tak didapati asap mengepul. Tak memasak apa pun, sebab tak miliki uang untuk berbelanja makanan. Miris.

Melihat si anak sakit panas, naluri keibuan Ummu Mujahid pun timbul. Sedianya, ia berniat untuk memanggil dokter. Tapi, mau dibayar dengan apa? Maka, ia pun mengambil air dan handuk untuk menurunkan panas anaknya dengan mengompres.

Seketika itu juga, ingatannya tertuju kepada Allah Ta’ala dan keyakinannya amat mendalam bahwa Allah Ta’ala akan menolongnya dengan perantaraan sabar dan shalat. Dan, sebagai bentuk sabarnya, Ummu Mujahid mengompres anaknya yang terbaring lunglai di tempat tidur.

Dicelupkanlah handuk ke baskom berisi air, sedikit diperas, lalu diletakkan di bagian tubuh anaknya. Sembari menunggu handuknya kering, ia pun mengambil air wudhu untuk mendirikan shalat sunnah muthlaq. Rupanya, bersamaan dengan salam, handuk yang ditempelkan di tubuh anaknya itu pun kering.

Terus seperti itu; mengompres, shalat, berulang kali. Hingga, berlalulah masa sekitar sembilan puluh menit ketika pintu rumahnya diketuk oleh tamu tak diundang. Oleh sang ayah, tamu itu pun dipersilakan masuk. Seorang dokter.

- Advertisement -

Tanpa diminta, dokter itu pun melakukan pemeriksaan kepada si anak. Lalu, memberikan resep dan kwitansi pembayaran. Saat menerima sodoran kertas dari dokter itu, Ummu Mujahid berkata, “Maaf, kami tak kuasa membayarmu.”

Dengan nada agak tinggi karena kaget, dokter itu pun menjawab, “Bukannya satu setengah jam yang lalu Anda menelpon dan memintaku untuk datang dan berjanji akan membayar di tempat?”

“Maaf,” bela Ummu Mujahid, “telepon di rumah ini sudah mati sejak dua bulan yang lalu,” ujarnya sembari menunjukkan meja lusuh tempat menaruh telepon.

Melihat ketulusan penuturan wanita tersebut, sang dokter pun memeriksa alamat yang dicatatnya sebagai identitas penelpon. Lepas diteliti dan dicocokkan, rupanya dokter itu salah alamat.

Menyadari hal itu, lelaki paruh baya nan saleh dan baik hati ini pun menangis. Katanya sambil menahan isak, “Allah Ta’ala mustahil mengantarkanku ke rumah ini secara kebetulan,” sembari terus menerus menyebut nama-Nya.

- Advertisement -

Kemudian, ia pun berpamit dan membebaskan Ummu Mujahid dari tagihan tersebut. Sungguh, bersama satu kesukaran terdapat dua kemudahan. Sungguh, pertolongan-Nya amatlah dekat bagi siapa yang memintanya dengan sabar dan shalat. [Pirman/Kisahikmah]

*Ditulis bebas dari salah satu ceramah Kiyai Haji Bachtiar Nasir Lc.

- Advertisement -

Terbaru

Jenazah Utuh Thalhah bin Ubaidillah Saat Makamnya Dipindah

Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu gugur sebagai syahid pada Perang Jamal. 30 tahun kemudian, saat kaum muslimin memindahkan makamnya, mereka menyaksikan sebuah keajaiban. Jenazah...

Kisah Umar Marah kepada Abu Bakar Melebihi Marahnya kepada Utsman

Umar bin Khattab pernah marah kepada beberapa sahabat, terutama Abu Bakar Ash Shiddiq. Saat itu Umar sedang berduka karena menantunya meninggal dunia sehingga putrinya...

Penasaran Hadits Ini, Istri-Istri Nabi Mengukur Panjang Tangannya

Para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mencintai beliau. Tak hanya ingin menemani beliau di dunia, para ummul mukminin juga ingin segera menyusul Rasulullah...

Setelah Amalkan Ayat Kursi, Tuyul Itu Tak Lagi Ketuk Pintu

Saya ingin berbagi pengalaman. Dulu sewaktu masih SMP, saya pindah ke Banda Aceh. Tepatnya setelah tsunami. Kami tinggal di rumah bantuan. Rupanya daerah itu masih...