Jangan Tertawa setelah Membaca Dua Kisah Lucu Ini!

Abu Ja’far al-Manshur tengah dirundung duka. Allah Ta’ala mengundang bibinya, Hamadah. Dia bergegas mendatangi rumahnya. Bertakziah sebagaimana disunnahkan oleh Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wa sallam. Setibanya Abu Ja’far al-Manshur, di rumah duka sudah datang banyak orang. Salah satunya adalah Abu Dulamah. Seorang yang terkenal jenaka. Suka melawak.

- Advertisement -

Abu Dulamah juga bertugas menggali kubur. Dengan tenaganya yang kuat dia menggali tanah satu cangkul demi cangkul lainnya. Tak jauh dari sana, jenazah Hamadah sudah menunggu. Dalam keadaan terbungkus kain kafan.

Abu Ja’far al-Manshur lantas mendekati Abu Dulamah. Dengan intonasi bertenaga, Abu Ja’far al-Manshur bertanya, “Wahai Abu Dulamah, apa yang engkau persiapkan untuk liang kubur?”

Dengan trengginas, Abu Dulamah pun menjawab, “Aku mempersiapkan untuk Hamadah, bibinya Amirul Mukminin.”

Mendengar jawaban jenaka nan cerdas dari Abu Dulamah, Khalifah Abu Ja’far al-Manshur pun tertawa agak keras. Betapa laki-laki itu benar-benar seorang yang pandai bercanda, tapi sarat hikmah. Tiada kedustaan di dalam candaannya. Tapi terdapat hikmah yang agung.

***

Tersebutlah seorang laki-laki yang bernama Asy’ab. Oleh masyarakat sekitar, laki-laki ini dijuluki si Tamak. Dalam beberapa hari terakhir, Asy’ab diberitakan tengah belajar hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam.

- Advertisement -

Sepulangnya ke masyarakat dan berbaur, orang-orang saling bertanya, “Wahai Asy’ab, apa yang engkau dapatkan dalam beberapa hari terakhir?”

“Aku telah belajar hadits. Telah diriwayatkan secara marfu’ dari Abdullah bin ‘Abbas, Ikrimah mengatakan bahwa Allah Ta’ala menyukai dua sifat.”

Saat Asy’ab berhenti sejenak, orang-orang saling bertanya, “Apakah dua sifat yang disukai oleh Allah Ta’ala?”

Kata Asy’ab datar tanpa merasa bersalah, “Ikrimah melupakan satu sifat (hanya menyampaikan satu sifat), dan aku melupakan satu sifat (yang disampaikan oleh Ikrimah kepadanya).”

***

- Advertisement -

Kawan, bercandalah. Tapi, jangan ada dusta di dalam canda-canda kita. Bercandalah sebagaimana diteladankan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, para sahabat, dan generasi setelahnya. Bercandalah dengan bijak. Canda yang mampu menjernihkan jiwa, menyegarkan pikiran, dan menyehatkan badan.

Jangan berlebih-lebihan. Jangan berdusta hanya karena ingin mengundang tawa orang-orang yang mendengarkan candaan kita.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -