Mengapa Imam al-Ghazali Rekomendasikan untuk Khatamkan al-Qur’an pada Hari Senin dan Malam Jum’at?

Di dalam al-Adzkar, Iman an-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala mengutip penjelasan Imam al-Ghazali Rahimahullahu Ta’ala dalam Ihya’ ‘Ulumuddin, “Yang terbaik ialah apabila seseorang mampu mengkhatamkan al-Qur’an pada waktu malam, dan pada kesempatan lain mengkhatamkannya pada waktu siang.”

- Advertisement -

Jika tiba masa mengkhatamkan di waktu siang, Imam al-Ghazali merekomendasikan, “Hendaknya ia mengkhatamkan saat mendirikan shalat Subuh pada hari Senin atau (waktu) setelahnya.” Sedangkan jika mengkhatamkan di waktu malam hari, imamnya para sufi ini mengatakan, “Hendaknya mengkhatamkan pada malam Jum’at saat mendirikan shalat Maghrib atau (waktu) setelahnya.”

Beliau merekomendasikan dua hari ini bukan sembarangan, tapi berdasarkan hikmah agung sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dalam banyak sabdanya.

Hari Senin merupakan waktu dinaikkannya amal seorang hamba ke langit dunia. Sedangkan hari Jum’at yang dimulai pada Kamis sore (malam Jum’at) merupakan permulaan sayyidul ayyam yang dianjurkan untuk memperbanyak amal shalih sebagai bekal bertemu dengan Allah Ta’ala. Maka pada dua hari ini, mengkhatamkan al-Qur’an memiliki nilai tambah, meski hari-hari lain pun tetap utama. Sebab dalam Islam, semua hari mulia selama seseorang menggunakannya dalam rangka taat kepada Allah Ta’ala.

Beliau juga merekomendasikan waktu Subuh dan Maghrib untuk mengkhatamkan al-Qur’an lantaran kesimpulan yang beliau ambil dari hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam. bahwa Subuh merupakan permulaan siang, dan Maghrib merupakan awal malam. Hal ini disandarkan pada sabda Nabi, “Bila ia mengkhatamkan al-Qur’an pada awal malam, maka malaikat akan bershalawat kepadanya hingga pagi hari. Jika dia mengkhatamkan al-Qur’an pada akhir malam (awal pagi), maka malaikat akan bershalawat kepadanya hingga sore.”

Karena itu, mengkhatamkan al-Qur’an di waktu Subuh merupakan cara paling efektif untuk mendapatkan sebanyak mungkin shalawat dari para malaikat. Mereka akan senantiasa melakukannya hingga masuk waktu Maghrib.

Sedangkan jika mengkhatamkan al-Qur’an di waktu Maghrib, maka malaikat akan terus menerus bershalawat hingga masuknya waktu Subuh.

- Advertisement -

Motivasi inilah yang sangat membekas di sanubari para sahabat yang mulia. Mereka berlomba dan bergegas karena mengharapkan ridha Allah Ta’ala dan balasan di akhirat yang agung nan menyelamatkan.

Sedihnya, umat akhir zaman justru meremehkan mengkhatamkan al-Qur’an. Jika pun ada yang mengkhatamkan, banyak di antara mereka yang hanya mengharapkan kembalian di dunia. Padahal pahala akhirat amatlah agung.

Ya Allah, rahmatilah kami dengan al-Qur’an. Aamiin.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Inilah Ayat yang Membuat Umar Masuk Islam

Kemarahan Umar bin Khattab memuncak. Ia merasa agama baru telah membuat ajaran nenek moyangnya terinjak-injak. Maka ia ambil pedang, lalu pergi untuk mengakhiri apa...

Jenazah Utuh Thalhah bin Ubaidillah Saat Makamnya Dipindah

Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu gugur sebagai syahid pada Perang Jamal. 30 tahun kemudian, saat kaum muslimin memindahkan makamnya, mereka menyaksikan sebuah keajaiban. Jenazah...

Kisah Umar Marah kepada Abu Bakar Melebihi Marahnya kepada Utsman

Umar bin Khattab pernah marah kepada beberapa sahabat, terutama Abu Bakar Ash Shiddiq. Saat itu Umar sedang berduka karena menantunya meninggal dunia sehingga putrinya...

Penasaran Hadits Ini, Istri-Istri Nabi Mengukur Panjang Tangannya

Para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mencintai beliau. Tak hanya ingin menemani beliau di dunia, para ummul mukminin juga ingin segera menyusul Rasulullah...