Dua Keburukan Jika Manusia Tidak Diuji

Terdapat kebaikan yang banyak dalam setiap ujian yang Allah Ta’ala berikan. Ada curahan hikmah dalam setiap cobaan yang menimpa seorang hamba yang beriman. Bagi mereka pahala yang agung, pengampunan dosa, dan janji keselamatan dari Allah Ta’ala; jika sabar menjalani setiap ujian, cobaan, rintangan, sakit, kehilangan, atau jenis ujian tak mengenakkan lainnya.

- Advertisement -

Bahkan, jika seseorang tidak mendapatkan ujian, ada keburukan yang tengah mengancam dirinya. Jika sepanjang hidup hanya mendapatkan bahagia-suka-gembira, tanpa sedikit pun sakit-sedih-dan sejenisnya, maka kita perlu khawatir. Sebab memang, ujian adalah satu di antara sekian banyaknya tanda bahwa Allah Ta’ala menyayangi hamba-hamba-Nya.

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah menerangkan, ada sedikitnya dua keburukan yang mengintai seorang hamba yang tak pernah diuji dengan sakit atau kepedihan dalam hidup.

Ujub dan Takabbur

Sombong. Itulah keburukan yang pertama. Orang yang hanya mendapatkan kebahagiaan, menjalani kesukaan di sepanjang hidupnya, maka penyakit tinggi hati akan merasuk ke dalam hatinya. Pasalnya, mereka tak pernah mendapati kesulitan dan kesukaran hidup. Kemudian setan membisiki ke dalam jiwanya, bahwa kemudahan yang didapatkan merupakan tanda sayangnya Allah Ta’ala kepada dirinya.

Padahal, para Nabi dan orang-orang shaleh adalah sosok yang paling berat ujiannya. Bahkan mereka mendapatkan ujian dua kali lipat lebih susah dari manusia pada umumnya.

Inilah subhat yang dibisikkan oleh setan, sehingga orang-orang yang tak pernah mendapatkan ujian akan dirasuki sikap sombong. Padahal, sombong adalah selendang Allah Ta’ala dan hanya layak untuk-Nya. Dan, jika sikap itu ada di dalam hati seorang hamba, surga pun diharamkan baginya.

Kasar Hati dan Bekunya Jiwa

Mereka yang tak pernah diuji dengan kepahitan hidup akan kasar hatinya. Jiwanya pun beku. Sebab, tak pernah alami kesakitan atau kesulitan. Sedangkan sakit, sulit, susah, adalah terapi jiwa yang sangat efektif. Agar jiwa tenang dan senantiasa merasa butuh kepada Allah Ta’ala.

- Advertisement -

Karenanya pula, untuk melakukan terapi terhadap hati dan jiwa, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memberikan perintah untuk mengunjungi orang sakit, peduli kepada orang miskin dan yatim, mengurus jenazah, dan amalan lain untuk mengingatkan akan kelemahan diri dan butuhnya jiwa akan pertolongan Allah Ta’ala, serta sementaranya hidup di dunia yang fana ini. [Pirman]

- Advertisement -

Terbaru

Kisah Pemuda Melamar Calon Istri Kedua dengan Kata-Kata Bilal

Pemuda itu galau. Ia jatuh cinta kepada seorang gadis padahal dirinya sudah menikah. Hari demi hari, dirasakannya cinta makin merasuk ke jiwa....

Boleh Jadi Kamu Membenci Sesuatu, Padahal Ia Amat Baik Bagimu

“Yah, kenapa sih mobil kita kecil? Sudah sesak nih,” kata seorang anak kepada ayahnya saat mereka berlima bepergian menuju sebuah tempat wisata.

Nama Istri-Istri dan Anak-Anak Abu Bakar Ash Shiddiq

Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu memiliki enam orang anak. Seluruhnya menjadi tokoh-tokoh di zamannya, dalam berbagai bidang yang berbeda.

4 Keutamaan Wudhu yang Mencengangkan

Karena sering dilakukan, kadang wudhu dianggap biasa saja dan disepelekan. Padahal, keutamaan wudhu itu luar biasa. Wudhu adalah cara...