Saya Pernah Berzina, Bagaimana Cara Taubatnya?

0
taubat
ilustrasi (Pinterest)

Usai pengajian di sebuah masjid, ada pemuda menghampiri. “Ustadz, saya pernah membantu teman saya aborsi.”

Pemuda yang lain bertanya, “Ustadz, saya pernah berzina. Bagaimana cara taubatnya? Apakah Allah akan mengampuni dosa saya?”

Kepada dua pemuda itu saya sampaikan bahwa Allah Maha Pengampun lagi Penerima taubat. Dosa sebesar apa pun, ampunan Allah jauh lebih besar.

Sengaja hal ini saya tegaskan karena sering kali syetan membisikkan kepada orang yang telah banyak dosa bahwa Allah tidak akan menerima taubat mereka. Akhirnya mereka putus asa dan putus harapan. Menganggap dosa tak terampuni, maka saja jika mereka menambah dosa lagi.

Ini pernah dialami oleh orang terdahulu yang telah membunuh 99 nyawa, lalu ia membunuh seorang ahli ibadah yang mengatakan tak ada pintu taubat.  Ketika membunuh abid itu sebagai korbannya yang ke-100, laki-laki tadi berpikir tidak ada bedanya antara membunuh 99 orang dengan membunuh 100 orang. Sama-sama tak ada pintu taubat.

Setelah mendapat pencerahan dari seorang alim bahwa dosanya membunuh 100 orang bisa diampuni Allah asalkan mau taubatan nasuha, ia pun benar-benar bertaubat hingga akhirnya husnul khatimah.

Baca juga: Kisah Sufi

Jika syetan menggoda manusia dari empat penjuru yakni depan, belakang, kanan dan kiri; bisikan putus asa dari ampunan Allah adalah godaan syetan dari arah depan. Demikian yang bisa kita dapatkan dalam Ighatsatul Lahfan karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah.

Kedua, yang saya sampaikan kepada pemuda-pemuda itu, perlu segera bertaubat dengan taubatan nasuha. Inilah yang mendatangkan ampunan Allah.

Taubatan nasuha itu dimulai dari menyesali dosa yang telah dilakukan dan menghentikan dosa tersebut. Kemudian minta ampunan kepada Allah dan bersungguh-sungguh tidak akan mengulanginya lagi.

Secara ritual, bentuk taubat nasuha itu bisa dimulai dengan mengerjakan sholat taubat. Yakni sholat sunnah dua rakaat kemudian memohon ampun dan taubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

مَا مِنْ رَجُلٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا ثُمَّ يَقُومُ فَيَتَطَهَّرُ ثُمَّ يُصَلِّى ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ». ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ (وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Tiada seorang pun yang berdosa kemudian ia berwudhu lalu mengerjakan sholat serta memohon ampun kepada Allah melainkan ia diampuni olehNya.” Selanjutnya beliau membaca ayat (QS. Ali Imran: 135, yang artinya), “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah; hasan)

Pembahasan lebih detil tentang sholat hajat mulai dari keutamaan, tata cara, niat dan doanya bisa dibaca di artikel Sholat Taubat. Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/Kisahikmah]

Berita sebelumyaBarakallah dan Jazakallah, Dua Ucapan Singkat Namun Dahsyat
Berita berikutnyaTeman Kesurupan Dibacakan Ayat Kursi, Hasilnya Mengejutkan
CEO BedaMedia Grup, Inspirator di Trustco Gresik, Sekretaris Yayasan (Pendidikan) Al Ummah