Nasihat Sufi tentang Cinta

0
ilustrasi @marketingitd.com

Gurunya para sufi, Imam al-Harits al-Muhasibi, menjelaskan dalam Risalah al-Mustarsyidin bahwa cinta terbagi menjadi tiga maqam. Dalam penjelasannya tersebut, beliau menyebutkan cara-cara yang harus ditempuh agar seorang hamba benar-benar mampu menggapai kesempurnaan dari ketiga cinta tersebut.

Cinta kepada Allah Ta’ala

Sufi yang merupakan guru dari Imam al-Junayd al-Baghdadi ini mengatakan, “Cinta kepada Allah Ta’ala ditandai dengan lebih mengutamakan ketaatan pada-Nya daripada kemaksiatan.”

Taat dan maksiat senantiasa berebutan untuk dikerjakan oleh seorang hamba. Keduanya merupakan perlambang cinta dan nafsu. Siapa yang dimudahkan dalam melakukan berbagai jenis amalan ketaatan, maka kemaksiatan, dosa, dan kesia-siaan akan berlari menjauhinya.

Sebaliknya, jika seorang hamba berlama-lama dalam perbuatan maksiat hingga terjerumus dalam dosa dan maksiat, maka amalan ketaatan pun enggan berdekat-dekat dengannya.

Cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam

Kesempurnaan cinta seorang hamba kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam hanya akan sempurna jika seorang hamba melakukan sunnah-sunnah yang mulia. Sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala dalam surat Ali ‘Imran [3] 31.

“Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku (Rasulullah), niscaya Allah Ta’ala mengasihimu.”

Sunnah tidak terbatas pada perkara besar, sebab tidak ada yang kecil jika diniatkan untuk ibadah kepada Allah Ta’ala. Sunnah meliputi teladan Nabi dalam amalan dan perkataan serta apa yang disepakati oleh beliau. Termasuk dalam sunnah adalah meninggalkan apa-apa yang ditinggalkan oleh beliau yang mulia.

Cinta kepada Orang Beriman

Cinta kepada seorang mukmin karena Allah Ta’ala hanya akan sempurna jika memenuhi dua syarat. Pertama, tidak saling menyakiti. Kedua, saling berbagi manfaat sesuai ajaran Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wa sallam.

Maka cinta yang benar kepada sesama Muslim adalah amannya seorang sahabat dari lisan dan tangan kita. Jika terganggu saja tidak, maka dia pun tidak akan tersakiti.

Orang-orang beriman yang saling mencintai karena Allah Ta’ala juga gemar berbagi kebaikan. Dengan pemberian yang mengesankan, saling mengenal dengan pemahaman yang baik, dan seterusnya. Bahkan saat tak mampu memberikan sesuatu berupa benda, seorang Muslim akan benar-benar melakukan kebaikan, meski dalam bentuk senyum dan doa yang amat tulus.

Mudah-mudahan Allah Ta’ala menolong kita untuk mencintai sesama orang beriman karena-Nya, bergegas dalam melakukan sunnah, dan mencintai Allah Ta’ala dengan kesibukan beramal shalih. Aamiin.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

Berita sebelumyaPengusaha Pemburu Surga
Berita berikutnyaKiat Sufi: Bagaimana Cara Mencintai Allah?