Menolak Masuk Surga

0
ilustrasi @www.namu-baznycia.lt

Tidak ada satu orang normal pun, kecuali mereka mau dan bergegas jika dimasukkan ke dalam surga. Sebab tabiat manusia yang menyukai segala jenis kenikmatan. Dan surga merupakan tempat yang di dalamnya dipenuhi berbagai jenis kenikmatan yang tiada ujungnya.

Meski semua orang menginginkan masuk surga, ada sebagian orang yang secara sengaja atau tidak telah menolak untuk dimasukkan ke dalamnya. Mereka menolak masuk surga lantaran kejahilan yang bersemayam di dalam dirinya.

Atas dasar rasa sayang, seorang sahabat mengajak sahabatnya ke masjid. Untuk shalat berjamaah, menghadiri kajian, belajar i’tikaf, atau amalan yang disunnahkan lainnya.

Pertama, yang diajak menolak dengan alasan belum siap, banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Saat diajak kedua kali, dia kembali menolak dengan alasan lainnya. Dan tatkala diteruskan, semakin banyak alasan yang dikemukakan; mulai dari yang logis sampai yang dibuat-buat.

Disadari atau tidak, sahabat yang diajak ini telah menolak masuk surga. Sebab amat mungkin, dari mengikuti ajakan pertama itu akan hadir hidayah dan kebaikan-kebaikan lainnya. Dan saat seseorang istiqamah dalam kebaikan, peluang baginya untuk masuk ke dalam surga lebih besar dari mereka yang memilih sibuk dengan dunia dan segala aktivitasnya.

Kisah lainnya bisa jadi makin rumit. Seorang laki-laki diajak menuju masjid untuk melakukan i’tikaf. Satu kali, dua kali, sampai berkali-kali laki-laki ini menyampaikan alasan hingga akhirnya, dia benar-benar beranjak ke sebuah tempat yang amat tidak kondusif baginya untuk melakukan i’tikaf.

Memang, yang menjalankan i’tikaf belum tentu lebih baik, sebab yang dinilai adalah hati dan keikhlasan. Namun, saat seseorang mulai melangkahkan kakinya menuju sebuah amal kebaikan, sejatinya Allah Ta’ala menyayanginya dan memberikan kesempatan bertaubat kepadanya.

Yang perlu disadari bahkan ditangisi, saat seseorang urung melakukan kebaikan, ialah pemahaman bahwa bisa jadi bukan dia yang tidak mampu, melainkan kebaikan itu yang enggan berteman dengannya.

Persis seperti saat kita tak sempat membaca al-Qur’an; jangan berpikir karena kita sibuk, tapi renungkankah, jangan-jangan al-Qur’an yang enggan untuk kita dekat dan akrabi.

Astaghfirullah.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

Berita sebelumyaKisah Murid Sufi yang Dibawa ke Surganya Setan
Berita berikutnya3 Hal yang Paling Disukai Sayyidina ‘Utsman bin ‘Affan