Wafat di Hari Jum’at, Jasadnya Sewangi Kasturi

0
6101
sumber gambar: www.slideshare.net

Laki-laki ini lahir di Yordania pada tahun 1941. Beliau berasal dari keluarga kaya dan berpendidikan. Setelah menamatkan pendidikan dasar dan tinggi di Negerinya, laki-laki ini melanjutkan program setelah sarjana di Universitas al-Azhar Kairo Mesir. Kejeniusannya diganjar dengan gelar doktor bidang Ushul Fiqih.

Kecintaannya kepada ilmu mengantarkan laki-laki ini sebagai dosen di berbagai universitas. Beliau juga aktif di berbagai pergerakan Islam. Beliau bergabung dengan Ikhwanul Muslimin Palestina. Demi ilmu dan jihad, beliau meninggalkan hidup mewah.

Ketika jihad Afghanistan melawan Uni Soviet berkecamuk, beliau mencari informasi dari jama’ah haji di Makkah al-Mukarramah. Saat itu, beliau mengajar di Universitas Raja Arab Saudi. Mendengar penuturan jamaah haji asal Afghanistan, beliau meyakini bahwa jihad melawan komunis di Negeri itu sesuai dengan ciri-ciri jihad yang disyariatkan oleh Islam.

Tak berpikir lama, sekitar tahun 1980-an, beliau sekeluarga memutuskan pindah ke Pakistan. Beberapa masa setelahnya, beliau semakin dekat dengan lokasi jihad. Beliau menempati sebuah rumah di daerah Peshawar. Dari sana, beliau berkeliling hampir ke seluruh wilayah pelatihan mujahidin untuk memberikan ceramah dan semangat kepada kaum Muslimin.

Dengan sentuhan keilmuan yang murni dan semangat jihad yang mengangkasa, laki-laki ini berhasil menyulap wilayah pelatihan mujahid sebagai madrasah dan masjid. Beliau berhasil menyatukan ibadah, ilmu, dan jihad.

Saking cintanya kepada jihad, tiada sedetik pun berlalu, kecuali beliau membicarakan jihad hingga beredarlah banyak tulisan dan ceramah-ceramah beliau terkait amalan paling mulia dalam Islam ini.

Pada hari Jum’at, 24 November 1989, beliau beranjak bersama dua anaknya menuju masjid untuk menjadi khatib sekaligus imam shalat Jum’at. Dibutuhkan waktu sekitar sepuluh menit agar sampai di masjid. Di tengah perjalanan, akhir hayat sang mujahid berakhir, meski kisahnya senantiasa harum sampai Hari Kiamat, insya Allah.

Sebuah bom diledakkan. Mobilnya hancur. Jasad dua anaknya-Muhammad dan Ibrahim-berceceran. Tangan dan kaki putus. Potongan jasad salah satu anaknya terpental hingga jarak ratusan meter.

Namun, jasad sang mujahid tetap utuh. Beliau dalam keadaan duduk. Mulutnya mengeluarkan darah segar. Setelah mengetahui siapa yang menjadi korban, kaum Muslimin bergegas mengantarkan tiga jenazah ke rumah sakit terdekat. Kepedihan menyayat. Air mata mulai mengalir. Bukan hanya di sekitaran Afghanistan, dunia turut berduka atas kepergian sang mujahid.

Medis menyatakan bahwa laki-laki ini telah wafat. Para jama’ah takziah menunggu di kediaman sang mujahid. Ketika jenazah tiba, hampir semua yang hadir memberikan pengakuan, “Kami mencium aroma sewangi kasturi saat jenazah datang hingga dimakamkan.”

Allahu Akbar walillahil hamd.

Laki-laki ini, tiada lain adalah Dr ‘Abdullah Yusuf ‘Azzam atau dikenal dengan Syaikh ‘Abdullah ‘Azzam.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

*Rujukan: Jasad-jasad yang Harum, M. Sanusi, Diva Press, 2013

*Tulisan dan ceramah Dr ‘Abdullah ‘Azzam berhasil dikumpulkan dan dicetak menjadi buku dengan judul Tarbiyah Jihadiyah. Silakan beli di 085691548528. Buku terdiri dari 3 jilid besar.

SHARE
Previous articleJualan adalah Keterampilan Bawaan Lahir yang Kita Zhalimi
Next articleMasih Suka Sia-Siakan Waktu? Hal Ini Akan Membuat Anda Tercengang