Waspadailah Tiga Jenis Maksiat Ini

Imam al-Harits al-Muhasibi adalah salah satu guru Syeikh Junaid al-Baghdadi yang merupakan salah satu tabib hati bagi kaum Muslimin lintas generasi. Beliau banyak mengajarkan teknik pensucian jiwa yang menjadi salah satu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

- Advertisement -

Sebagai salah satu bentuk meneruskan ajaran Rasulullah, beliau pun menganjurkan kaum Muslimin agar mengindari segela jenis maksiat. Beliau yang lahir di Bashrah dan wafat di Baghdad ini membagi maksiat menjadi tiga jenis yang semuanya harus dihindari.

Maksiat yang Harus Dihindari

Ialah segala jenis dosa besar dan dosa kecil serta perbuatan-perbuatan yang menjadi pembukanya. Hendaknya kita mendatangi ahli ilmu untuk belajar serta meneladani perbuatan mereka di sepanjang hari. Sebab, hanya dengan ilmulah kita bisa mengetahui mana yang baik dan buruk.

Terkait maksiat jenis ini, Imam al-Muhasibi mewanti-wanti agar pelakunya segera bertaubat kepada Allah Ta’ala serta berazam untuk tidak mengulanginya lagi.

Maksiat karena Kebodohan Masa Lalu

Semua kita pasti pernah menjalani masa jahiliyah. Ialah kondisi ketika kita tidak mengetahui atau tidak mau tahu terkait perintah-perintah dan larangan-larangan Allah Ta’ala.

Di tahap ini, amat memungkinkan bagi kita untuk melakukan suatu perbuatan dosa yang tidak diketahui bahwa perbuatan tersebut termasuk dosa. Karenanya, kita diwajibkan menuntut ilmu. Lantas, setelah menyadari bahwa perbuatan masa lalu termasuk maksiat, hendaknya kita bertaubat dan berazam untuk tidak mencicipinya lagi, meski secuil.

Maksiat setelah Taubat

Bahwa tabiat manusia adalah banyak dan sering mengulangi kesalahan masa lalu. Meski pernah masuk ke dalam sebuah lubang dosa, tidak jarang kita kembali memasuki lubang tersebut. Berulang kali.

- Advertisement -

Bentuk lain dari maksiat ini, sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Muhasibi adalah tidak memberikan nafkah kepada anak dan istri setelah bertaubat. Pasalnya, ada sebagian kaum Muslimin yang memilih sibuk ibadah, tapi melupakan kewajiban-kewajibannya kepada sesama.

Maka, jika hal ini terjadi, sesungguhnya ia telah melakukan kebaikan dan melalaikan kebaikan lain yang tak kalah pentingnya. Dan hendaknya, kita kembali kepada Islam yang paripurna hingga mengamalkan seluruh ajarannya dengan sempurna di semua bidang sesuai dengan kemampuan terbaik yang kita miliki.

Ya Allah, cabutlah keinginan maksiat dari dalam hati kami dan gantilah dengan hasrat yang mendalam untuk senantiasa berada dalam ketaatan hingga akhir hayat. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Nasehat Rasulullah Ini Mak Jleb Buat Kita di Bulan Syawal

“Ayo, mana yang lain?” Admin ODOJ mengingatkan di grup. Banyak yang belum tuntas tilawah harian. Pertengahan Syawal telah lewat, namun setoran juz...

Kisah Imam Ahmad dan Dahsyatnya Istighfar Penjual Roti

Sebelum meninggal, Imam Ahmad rahimahullah menceritakan bahwa suatu waktu dalam hidupnya, ketika usianya mulai tua, tiba-tiba muncul keinginan untuk mengunjungi satu kota...

Habis Idul Fitri Langsung Puasa Syawal, Ini Keutamaannya

Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriyah jatuh pada hari Ahad, 24 Mei 2020. Senin, 2 Syawal 1441 bertepatan dengan 25 Mei 2020,...

Lailatul Qadar Jatuh pada Malam 27 Ramadhan? Ini Dalil dan Tandanya

Lailatul Qadar jatuh pada malam berapa? Tak ada seorang pun yang bisa memastikannya. Namun ada dalil hadits yang menunjukkan secara umum, kemudian...