Tak Ucapkan Insya Allah, Istri Nabi Sulaiman Lahirkan Setengah Manusia

0
tak ucapkan insya allah
ilustrasi (Reuters)

Demikian pentingnya mengucapkan insya Allah, Allah menegur Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dengan sebuah peristiwa besar. Nabi Sulaiman ingin mendapatkan 100 putra yang kelak menjadi mujahidin fi sabilillah.

 “Sungguh aku akan berkeliling (menggilir) 100 istriku malam ini, sehingga tiap wanita akan melahirkan anak yang akan berjihad di jalan Allah,” kata Nabi Sulaiman saat itu.

“Ucapkan insya Allah,” kata seorang Malaikat kepada Nabi Sulaiman. Namun beliau tidak mengatakannya. Lupa.

Sesuai rencanya, beliau pun berkeliling pada istri-istrinya. Namun dari hubungan malam itu, tidak ada istrinya yang melahirkan anak kecuali satu orang saja. Itupun tidak hidup karena ia melahirkan setengah manusia.

Setelah mengisahkan kisah ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَوْ قَالَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمْ يَحْنَثْ وَكَانَ أَرْجَى لِحَاجَتِهِ

“Kalau Nabi Sulaiman mengucapkan Insyaallah, niscaya beliau tidak melanggar sumpahnya dan lebih diharapkan hajatnya terpenuhi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits shahih yang mengisahkan Nabi Sulaiman ditegur Allah itu menjadi salah satu dalil pentingnya insya Allah.

Baca juga: Kisah Habil dan Qabil

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah ditegur Allah karena tidak mengucapkan insya Allah.

Ketika itu, orang-orang Quraisy meminta keterangan kepada Rasulullah tentang ruh, bagaimana kisah ashabul kahfi dan siapa yang mengembara ke barat dan ke timur.

Rasulullah berjanji akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu besok. Beliau berharap malamnya Jibril datang menyampaikan wahyu.

Ternyata wahyu tidak datang-datang hingga lima belas hari. Lalu Allah menurunkan Surat Al Kahfi ayat 23-24 agar ketika Rasulullah dan umatnya berjanji, mereka mengucapkan insya Allah.

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا , إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”.. (QS. Al Kahfi: 23-24)

Dua kisah ini menjelaskan, ketika Nabi (khususnya Rasulullah) melakukan kesalahan, Allah langsung menegur dan mengingatkan. Sehingga para Nabi tetap berada di jalan yang lurus. Bahkan Rasulullah menjadi ma’shum, terjaga dari dosa.

Dua kisah ini juga menjelaskan, dengan ucapan insya Allah kita meyakini segala hal terjadi atas kehendak Allah. Dan dengan ucapan ini, seorang hamba mengharapkan isti’anah (pertolongan dari Allah), maka Allah pun mendatangkan kemudahan baginya. [Muchlisin BK/Kisahikmah]

*Pembahasan lengkap arti, keutamaan dan penulisan yang benar bisa dibaca di artikel Insya Allah

Berita sebelumyaSubhanallah, Ini Alasan Rasulullah Menikahi Aisyah
Berita berikutnyaEmpat Waktu Terbaik Membaca Ayat Kursi
CEO BedaMedia Grup, Inspirator di Trustco Gresik, Sekretaris Yayasan (Pendidikan) Al Ummah