Tinggalkan Amalan Ini, Keluarga dan Harta Anda Seakan Terampas

Abdullah bin Mas’ud mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sembari bertanya, “Ya Rasulullah, amal apakah yang paling utama?” Maka Nabi menjawab, “Shalat tepat waktu.” Lanjut ‘Abdullah bin Mas’ud, “Lalu apalagi, Ya Nabiyallah?” Kemuudian Nabi menyampaikan, “Berjihad di jalan Allah.”

- Advertisement -

Tanya Abdullah selanjutnya, “Lalu, apalagi ya Rasulullah?” Beliau yang mulia akhlaknya pun mengatakan, “Berbuat baik kepada kedua orang tua.” Tutup Abdullah bin Mas’ud, “Jika aku menambahkan tanya, pastilah Nabi akan menambahkan jawabannya.

Shalat pada waktunya dalam hadits di atas disebut sebagai amalan yang paling utama. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa shalatlah yang pertama kali dihisab di akhirat dan menjadi penentu; jika shalatnya baik, baik pula amalan lain; dan sebaliknya.

Shalat lima waktu diibaratkan sebagai mandi lima kali sehari dengan air jernih, mengalir, dan sehat. Maka, jika seseorang mandi dengan baik, mungkinkah masih terdapat kotoran yang melekat dalam tubuhnya?

Dalam rangkaian lima waktu itu, Allah Ta’ala secara khusus menyebut satu waktu utama dalam salah satu ayat-Nya, “Jagalah semua shalat(mu), dan (jagalah) shalat wustha. Dan berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'”. (Qs. al-Baqarah [2]: 238)

Ulama’ berbeda pendapat tentang makna shalat Wustha. Ada sebagian yang menafsirkan shalat Wustha sebagai shalat Subuh, yang lainnya menafsirkannya sebagai shalat Dhuhur, dan kebanyakan ulama’ bersepakat bahwa yang dimaksud adalah shalat ‘Ashar.

Dalam Perang Ahzab, kaum muslimin pernah direpotkan oleh musuh-musuh Islam sehingga tertinggal waktu shalat Ashar. Karenanya, Nabi mengatakan, “Mereka (orang-orang kafir) telah menyibukkan kami dari shalat Wustha, yaitu shalat ‘Ashar.”

- Advertisement -

Doa Nabi sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, “Semoga Allah memenuhi hati dan rumah mereka dengan api.” Kemudian, sebagaimana dikutip oleh al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, “Beliau (Rasulullah) mengerjakannya di antara Maghrib dan ‘Isya'”. Hadits yang mulia ini diriwayatkan pula oleh Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i dan Tirmidzi.

Dalam banyak riwayat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memotivasi sahabat dan umatnya untuk mengerjakan shalat Wustha dengan baik. Pasalnya, shalat ini pernah ditawarkan kepada orang-orang sebelum umat Muhammad, namun mereka menolaknya. Maka bagi yang mengerjakannya, ada ganjaran dua kali lipat sebagaimana disebutkan dalam riwayat Imam Ahmad dari Abu Nadrah al-Ghifari.

Bagi mereka yang dengan sengaja meninggalkan shalat Wustha ini secara khusus, Allah Ta’ala akan berikan balasan setimpal atas perbuatannya itu. “Segerakanlah shalat Ashar pada hari yang mendung,” nasihat Nabi, “Siapa yang meninggalkan shalat ‘Ashar, maka terhapuslah semua amalnya.”

Dalam riwayat lain oleh Imam az-Zuhri, “Barang siapa meninggalkan shalat ‘Ashar, seakan-akan ia telah dirampas harta dan keluarganya.” [Pirman]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -