Tidak Berlakunya Emas Sepenuh Bumi

Ada kewajiban untuk menjaga hidayah yang Allah Ta’ala kurniakan. Di dalamnya ada kerja perawatan yang tak ringan. Sebab ketergelinciran amatlah menyakitkan bagi orang-orang yang telah hidup dalam manisnya iman dan Islam.

- Advertisement -

Pasalnya, jika iman dan Islam lepas setelah seseorang beriman, taubatnya akan diterima Allah Ta’ala jika ia sungguh-sungguh. Namun, jika ia mengulang kesalahannya dan kembali kafir untuk yang kedua kalinya, maka ada akibat buruk yang menunggunya di alam akhirat.

Al-Hafizh Abu Bakar al-Bazzar menyebutkan, ada suatu kaum yang beriman, kemudian murtad. Setelah menyadari kekeliruannya, ia kembali masuk ke dalam Islam. Dan, kala itu Islamnya diterima.  (Lihat Kisah Orang Anshar yang Diterima Tobatnya).

Namun, ketika ia mengulangi kekufurannya untuk yang kedua kali atas kelalaian dan kesengajaan, maka dikatakan oleh Allah Ta’ala, “Sesungguhnya orang-orang kafir sesudah beriman, kemudian bertambah kekafirannya, sekali-kali tidak akan diterima tobatnya.” (Qs. Ali ‘Imran [3]: 90)

Kemudian ketika mereka mati dalam keadaan tetap dalam kekufurannya kepada Allah Ta’ala dan mengingkari ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka tidk diterima darinya tebusan atas kekufurannya itu, meski tebusan itu berupa emas sepenuh bumi.

“Barang siapa meninggal dunia dalam keadaan kafir,” jelas Ibnu Katsir, “maka tidak ada kebaikan darinya yang diterima oleh Allah Ta’ala selamanya.” Meskipun, “Ia telah menginfaqkan emas sepenuh bumi ini, yang dipandangnya sebagai sarana dalam mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.”

Maka sia-sialah amalan yang dilakukan oleh mereka yang ingkar kepada Allah Ta’ala. Percuma saja kebaikan yang dilakukan jika tidak didahului dengan iman dan Islam sebagai syarat diterimanya amal.

- Advertisement -

Sebab riwayat itu, datanglah seorang sahabat yang menanyakan tentang ‘Abdullah bin Jad’an. Ia adalah sosok baik hati, senantiasa menjamu tamu, memberikan pertolongan kepada yang membutuhkan, juga sering memberikan makanan kepada sesama.

“Apakah yang dilakukannya itu bermanfaat baginya, ya Rasulullah?” Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Tidak.” Sebabnya, “Karena ia tidak pernah mengucapkan, ‘Ya Allah, ampunilah kesalahanku pada Hari Pembalasan.’”

Ditegaskan oleh Imam Ibnu Katsir, “Tidak ada sesuatu pun yang dapat menyelamatkannya, meskipun ia menebus dirinya dengan emas sepenuh bumi, seberat gunung, tanah, pasir, dataran rendah, dataran tinggi, serta daratan dan lautan.”

Duh, meruginya. Na’udzubillahi min dzalik. [Pirman]

- Advertisement -

Terbaru

Kisah di Balik Lahirnya Buku Cinta Sehidup Sesurga

Cinta Sehidup Sesurga adalah sebuah buku inspirasi merawat cinta. Banyak kiat-kiat di dalamnya yang jika dipraktikkan dalam pernikahan, insya Allah suami istri...

Mengapa Jin Tak Berani Mengganggu Orang yang Membaca Ayat Kursi?

Mengapa jin tak berani mengganggu orang yang membaca ayat kursi? Berikut ini penjelasan ilmiah dan logisnya. Jin Sendiri Mengaku...

Rasulullah Tak Mengerjakan, Mengapa Puasa Tasua Jadi Sunnah?

Dua di antara amalan bulan Muharram adalah puasa tasua dan puasa asyura. Rasulullah biasa mengerjakan puasa asyura bahkan sangat mengutamakan. Namun puasa...

Kisah Ghibah di Zaman Nabi, Ketika Benar Tercium Bau Bangkai

Saat membaca Surat Al Hujurat ayat 12, kita memahami bahwa ghibah itu ibarat memakan daging saudara sendiri yang telah mati. Namun tahukah...