Seikat Rumput yang Patahkan Punggung Unta

Apa yang kita alami saat ini adalah akumulasi dari kebiasaan, kegiatan, beban, atau hal-hal lain yang kita kerjakan di masa lalu. Sayangnya, banyak yang tidak menyadari, dan rasakan kaget yang luar biasa ketika ada kejadian besar yang dialaminya. Begitulah manusia pada umumnya, sering meremehkan hal kecil, dan baru tersadar ketika ada kejadian besar yang menimpanya.

- Advertisement -

Dikisahkan dalam Bersama Ayah Meraih Jannah, seorang majikan memiliki seekor unta. Unta yang gagah itu digunakannya untuk mengangkut beraneka rupa barang; dagangan, makanan, dan kebutuhan lainnya. Setiap hari seperti itu, dalam jumlah yang banyak, dan sering.

Oleh tetangga dan kerabatnya, sang majikan diingatkan, “Kasihan untanya. Jangan terlalu berat membebaninya.” Namun, sang majikan abai. Ia senantiasa menukasi, “Gak, kok. Cuma sedikit. Untaku kuat menanggung beban ini.”

Berbilang hari, bulan, dan tahun. Terus seperti itu. Hingga pada suatu pagi, ketika sang majikan hendak mengangkut seikat rumput di punggung untanya. Oleh seorang tetangganya, sang majikan kembali diingatkan. Rupanya, ia mengelak, “Gak apa-apa. Hanya seikat rumput.”

Dalam hitungan detik setelah seikat rumput dinaikkan ke punggung unta, ia dan tetangganya terbelalak; untanya roboh. Punggungnya patah. Tak berdaya. Dan, hampir mati.

Demikian itulah yang menjelaskan akumulasi. Ia tersusun dari butiran-butiran kecil berjumlah banyak dalam waktu yang lama. Ia menumpuk, bergumul, bertambah banyak, kemudian menjadi tak terhingga.

Demikian juga dengan masalah. Jika tidak diselesaikan satu persatu, percayalah bahwa masalah itu akan menggunung. Dan, bahayanya akan dirasakan ketika gunung itu meletus dan memuntahkan material panas yang dikandungnya. Saat itulah, kita baru sadar dan menyesal.

- Advertisement -

Yang lebih mengerikan adalah dosa. Mulanya kecil, sedikit, sekali. Kemudian dilakukan seringkali, sedikit demi sedikit, berkali-kali. Alhasil, dosa itu senantiasa membesar dan membinasakan pelakunya. Itulah yang disampaikan oleh ‘Abdullah bin ‘Abbas, “Akan tetapi, tidak ada dosa besar jika disertai istrighfar, dan tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus.”

Maka yang terbaik di antara akumulasi itu semua adalah kebaikan. Lakukanlah terus menerus, berapa pun kadarnya; di mana saja, kapan saja, dalam keadaan apa saja. Kelak, kebaikan-kebaikan itu akan menggelombang, diikuti banyak orang, dan kita akan senantiasa mendapat ‘warisan’ pahala meski jasad telah berkalang tanah. [Pirman]

- Advertisement -

Terbaru

Nasehat Rasulullah Ini Mak Jleb Buat Kita di Bulan Syawal

“Ayo, mana yang lain?” Admin ODOJ mengingatkan di grup. Banyak yang belum tuntas tilawah harian. Pertengahan Syawal telah lewat, namun setoran juz...

Kisah Imam Ahmad dan Dahsyatnya Istighfar Penjual Roti

Sebelum meninggal, Imam Ahmad rahimahullah menceritakan bahwa suatu waktu dalam hidupnya, ketika usianya mulai tua, tiba-tiba muncul keinginan untuk mengunjungi satu kota...

Habis Idul Fitri Langsung Puasa Syawal, Ini Keutamaannya

Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriyah jatuh pada hari Ahad, 24 Mei 2020. Senin, 2 Syawal 1441 bertepatan dengan 25 Mei 2020,...

Lailatul Qadar Jatuh pada Malam 27 Ramadhan? Ini Dalil dan Tandanya

Lailatul Qadar jatuh pada malam berapa? Tak ada seorang pun yang bisa memastikannya. Namun ada dalil hadits yang menunjukkan secara umum, kemudian...